JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Terkenal dengan Metode “Cuci Otak” bagi Pasien Stroke, Dr Terawan Dipecat dari IDI, Ini Sebabnya

Tribunnews

JAKARTA – Dokter Terawan merupakan dokter ahli yang juga menjadi kepala RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Dia dikenal dengan metode “Cuci Otak” untuk meringankan dan menyembuhkan pasien stroke.

Dan terbukti, banyak pasien yang sembuh atau diringankan. Namun, belakangan menjadi heboh karena dokter tersebut dipecat dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Apa masalahnya?

Pemecatan Dr Terawan tersebut, ternyata terkait dengan kasus pelanggaran kode etik. Dr Terawan dikabarkan suka mengiklan dan memuji diri. Di samping itu, dokter Terawan juga dikabarkan sering menjanjikan kesembuhan pada pasiennya.

Padahal dalam kode etik kedokteran, seorang dokter tidak boleh mengiklankan, memuji diri, dan menjanjikan kesembuhan kepada pasiennya. Terawan juga tidak mengindahkan panggilan dari Mahkamah Kehormatan Etik Kedokteran. Setiap dipanggil untuk hadir dalam sidang, Terawan tidak pernah hadir. Hal tersebut juga termasuk pelanggaran dalam kode etik kedokteran.

Baca Juga :  Dibuka Sejak Kamis, Pendaftar Kartu Prakerja Gelombang 9 Sudah Lebih dari 5 Juta Orang. Kuota Hanya 800.000

Tapi bagaimana sebenarnya praktik “Cuci Otak” yang dilakukan Dr Terawan ini? Dokter Terawan menjelaskan metode ‘cuci otak’ itu secara ringkas sebenarnya adalah memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha penderita stroke.

Hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah terdapat penyumbatan pembuluh darah di area otak. Penyumbatan tersebut dapat mengakibatkan aliran darah ke otak bisa macet dan dapat menyebabkan saraf tubuh tidak bisa bekerja dengan baik.

Kondisi inilah yang terjadi pada penderita stroke. Sumbatan tersebut melalui metode DSA kemudian dibersihkan sehingga pembuluh darah kembali bersih dan aliran darah pun normal kembali.

Cara membersihkan sumbatan pembuluh darah pun terdapat berbagai cara. Mulai dari pemasangan balon di jaringan otak (transcranial LED) yang dilanjutkan dengan terapi.

Baca Juga :  Giliran Gedung Kemensos Lantai 1 Terbakar, Diduga Korsleting

Selain itu ada juga cara lain yaitu memasukkan cairan Heparin yang bisa memberi pengaruh pada pembuluh darah. Cairan tersebut juga menimbulkan efek anti pembekuan darah di pembuluh darah.

“Ada banyak pasien yang merasa sembuh atau diringankan oleh terapi ‘cuci otak’ itu,” jelas Terawan.

Buktinya, setelah menerapkan metode DSA itu nama Dr Terawan dan RSPAD pun melambung. Pasien berbondong datang, Terawan pun menyediakan dua lantai ruangan di RSPAD khusus untuk menangani pasien stroke.

Nama ruangnya CVV (Cerebro Vascular Center) yang pada bagian ini setiap hari bisa menangani sekitar 35 pasien. Biayanya antara paling murah Rp 30 juta per pasien, namun ada juga yang menyebut bisa Rp 100 juta per pasien. Wouw….

www.tribunnews.com