JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Wanita Rentan Terkena Bencana, Aisyiyah Jateng Rekrut Srikandi Relawan Bencana

SUKOHARJO-Pimpinan Wilayah Aisyiah Jawa Tengah mengukuhkan dan melantik tim fasilitator daerah dan tim rescue Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PW Aisyiah Jawa Tengah, Sabtu (21/4/2018).

Pengukuhan dan ikrar menjadi Srikandi relawan penanggulangan bencana dan kepedulian terhadap lingkungan hidup tersebut dilakukan di Lapangan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Ada sebanyak 76 fasilitator daerah dan 34 rescuer yang dikukuhkan oleh PW Asyiyah Jateng dan LLHPB Pimpinan Pusat Aisyiyah. “Kehadiran para srikandi LLHPB ini diharapkan bisa memberi kontribusi maksimal bagi pertolongan kemanusiaan di tanah air,” ungkap Dr Rahmawati Husen, Wakil Ketua LLHPB Pimpinan Pusat Aisyiyah di sela-sela pengukuhan.

Dikatakan oleh Rahmawati, wilayah Indonesia selama ini dikenal sebagai daerah atau kawasan yang berpotensi terkena bencana. Karena itu butuh perhatian semua pihak untuk memberikan pemahaman terhadap kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut.

“Dan selama ini yang paling rentan terkena dampak bencana adalah perempuan dan anak-anak. Karena mereka yang sering banyak berada di rumah. Baik itu bencana kebakaran, gempa, longsor dan lainnya. Karena itulah wanita harus kita siapkan sejak dini pemahaman terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut,” ungkap Ramhawati.

Baca Juga :  Muncul Klaster Ulang Tahun, Rekor Jumlah Positif Covid-19 di Solo Tembus 601 Kasus

Apalagi, lanjut dia, sering kali para wanita yang menjadi korban bencana lebih suka ditolong oleh wanita juga. Begitu pula dengan anak-anak. Maka PW Aisyiah punya kewajiban moral menyiapkan para relawan terdidik dari kaum perempuan untuk membantu menanggulangi bencana.

“Lewat perekrutan para relawan perempuan LLHPB ini kita berharap Muhammadiyah memberi kontribusi ketersediaan personel terdidik dalam penanggulangan bencana,” tambahnya.

Para fasilitator daerah dan tim rescuer LLHPB PW Aisyiyah ini mendapatan pelatihan tentang materi atau pengetahuan dasar hingga lanjutan mengenai penaggulangan bencana.

“Mulai dari yang paling kecil cara menangani konsleting listrik, kebakaran di dapur yang selama ini akrab di kalangan perempuan. Lalu kemampuan dasar penyelamatan, termasuk kebutuhan dasar saat terjadi bencana seperti urusan dapur umum, kesehatan korban dan lainnya. Pengetahuan yang mereka peroleh ini diharapkan bisa ditularkan dan dipakai di masyarakat. Mereka bisa mempraktekkan ilmu-ilmu dasar penanganan penyelamatan korban bencana,” kata Rahmawati yang juga pengurus MDMC PP Muhammadiyah Pusat ini.

Baca Juga :  Semakin Marak, Kapolresta Solo Tegaskan Aksi Balap Lari Liar Dilarang

Ditambahkannya, saat ini sudah ada sedikitnya 1 juta relawan srikandi LLHPB di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut harus terus ditingkatkan mengingat Indonesia wilayah yang rentan bencana.

Para relawan ini mendapatkan pelatihan dari pelatih yang memiliki sertifikasi dala bidang penanggulangan bencana. “Jadi yang namanya relawan itu bukan bondo nekat. Tapai harus punya ilmunya untuk penaggulangan bencana,” kata Rahmawati.

Dalam acara pengukuhan itu juga ditampilkan atraksi cara-cara penanggulangan bencana oleh tim MDMC dan Hizbul Wathan UMS. Kemudian juga ditunjukkan cara menangani korsleting listrik di rumah tangga oleh tim BPBD Kabupaten Sukoharjo.(………..)