Beranda Umum Nasional Ini Dia, Ranking 1 Provinsi Dengan Tingkat Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak...

Ini Dia, Ranking 1 Provinsi Dengan Tingkat Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tertinggi

64
BAGIKAN
Mama Yo bercengkerama sambil menikmati sajian makanan khas Asmat

ASMAT-Angka kekerasan pada perempuan dan anak di Provinsi Papua paling tinggi diantara provinsi yang lain.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Yohana Yembise mengungkapkan hal tersebut kepada Joglosemarnews.com, Minggu (20/5/2018). Menteri yang akrab disapa Mama Yo itu kemudian hadir ke pelosok Papua guna memecahkan permasalahan kekerasan dengan cara berdialog langsung kepada masyarakat.

Menurut dia, sebagian besar masyarakat kampung Astj, Kabupaten Asmat Papua masih melakukan kekerasan fisik, baik guru kepada murid, orang tua kepada anak maupun suami kepada isteri. Mama Yo berpesan agar tindak kekerasan tidak lagi di selesaikan dengan cara adat, denda dan mediasi namun harus ditangani secara hukum

“Ubah budaya patriarki, laki laki Astj harus melindungi, menyayangi  dan memuliakan perempuan. Begitu juga dengan anak, perhatikan kesehatannya dan pendidikannya, terutama anak perempuan. Jangan begitu gadis langsung kasih nikah,” tutur Mama Yo.

Untuk mendukung kemajuan di Papua, sebut dia, semua elemen masyarakat harus bersatu padu menghilangkan budaya kekerasan sejak saat ini.

“Kitong pu tanah ini harus  maju, jangan lagi baku pukul” ujar Mama Yo dengan logat khas Asmat.

Sebelumnya dia telah menandatangani launching Kabupaten Asmat menuju Kabupaten Layak Anak di gedung Bumiwiyata Mandala. Ada 24 indikator dan tahapan yang harus dijalani, salah satunya anak anak harus bersekolah, mendapatkan akses kesehatan, gizi yang baik dan perlindungan hak sipil.

Baca Juga :  Ngeri, Korban-Korban Rentenir di Wilayah Ini Sampai Rela Bayar Hutang Dengan Jasa Seks

“Yang tidak kalah penting, segeralah membuat forum anak agar terlibat di dalam musyawarah perencanaan pembanguna,” tegas dia.

Dia menyatakan, menempuh perjalanan sungai dari ibukota kabupaten Asmat ke kampung Astj menggunakan speed boat dan memakan waktu satu setengah hingga dua jam dengan kecepatan rata rata 60 km/jam.

Setibanya di kampung Astj, masyarakat terlihat sangat antusias. Sebagian berkelompok menyanyikan lagu khas diiringi dengan tabuh gendang dan tarian, sesekali pekikan suara warga juga terdengar.

“Mama yo memang sudah ditunggu tunggu oleh masyarakat setempat, karena belum pernah ada pejabat Negara setingkat Menteri hadir di kampung kami,” ujar Eko, tokoh agama dari kampung Astj. Aris Arianto