Beranda Daerah Jogja Jualan Bakso Tusuk dengan Modal Rp 40.000, Omzet Sainah Kini Jadi Rp...

Jualan Bakso Tusuk dengan Modal Rp 40.000, Omzet Sainah Kini Jadi Rp 10 Juta Per Hari

265
BAGIKAN
Tribunnews

BANTUL– Ketika mendengar kata bakso, mungkin kita akan terbayang pada makanan berkuah yang disajikan dalam mangkuk, dan memakai mi beserta sayur sebagai pelengkap.

Namun, berbeda dengan yang disajikan oleh Sainah (51), warga Padukuhan Miri, Sriharjo, Imogiri, Bantul.

Bakso buatannya tidak memakai kuah, namun hanya ditusuk dalam sebatang lidi yang telah dihaluskan.

Varian yang dikembangkannya pun beraneka macam, dari mulai bakso tusuk bakar, goreng hingga rebus.

Ada juga yang dibalut tahu, menjadi tahu bakso.Bisnis jajanan yang dijual Sainah memang tampak sepele. Namun, siapa sangka, dari bisnis bakso tusuk ini ia mampu meraup omzet Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap harinya.

Dari bisnis jajanan ini pula, perempuan sederhana ini mampu mempekerjakan 24 karyawan.

Ketika ditemui di warung miliknya yang terletak di jalan Siluk Imogiri, Rt 04, Sriharjo, Bantul, Sainah tampak tengah sibuk mengolah aneka macam bakso.

Mengenakan kerudung panjang berwarna oranye-coklat dalam balutan long dress, tangannya terlihat sangat cekatan mengolah adonan bakso.

Ia juga sesekali disibukkan dengan turut serta melayani para pembeli yang membludak singgah warungnya siang itu.

Tangannya tampak sibuk mengoleskan aneka macam bumbu dan sambal pada setiap tusuk bakso yang tengah dibakar.

Warung Sainah memang tidak terlalu besar. Bercat hijau dan ruangannya bersekat dan ada dapur tempat pengolahan adonan bakso, tempat pengorengan dan pembakaran bakso dan ada pula ruangan cukup lebar berisi meja kecil tertata yang beralaskan tikar, tempat para pengunjung.

Kepada Tribun Jogja, Sainah menceritakan, awal mula dirinya terjun dalam dunia usaha yang ia mulai sejak tahun 2007 silam.

Awalnya, ia mengaku hanya berjualan tempura keliling menggunakan sepeda ontel.

“2007 saya jualan tempura pakai sepeda, keliling kampung-kampung, sekolahan. Tempura itu saya ambil dari orang, setiap hari sistemnya setoran. Setiap hari kadang dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu, itu uangnya buat setoran. Paling sisa bersih untuk saya Rp15 ribu sampai Rp30 ribu,” kenang Sainah.

Hal itu ia lakoni selama hampir dua tahun.
Hingga suatu ketika, nalurinya untuk bangkit muncul. Ia mulai sharing kepada temannya sesama penjual keliling.

“Saya bilang ke mereka, bagaimana ya, kalau saya bikin bakso sendiri,” terang dia kepada temannya yang saat itu jualan bakso kuah keliling.

Dari obrolan santai itu, Sainah mengaku mendapat masukan banyak dari teman-temannya, bahkan ada yang dengan senang hati bersedia mengajari cara membuat bakso.

“Padahal waktu itu saya belum tahu sama sekali cara membuat bakso. Akhirnya saya mulai coba-coba,” ungkapnya.

Pertama kali mulai mencoba membuat bakso sendiri, dikatakan Sainah, dimulai pada tahun 2009.

Waktu itu kebetulan ia bertemu dengan seorang teman yang menyarankan untuk masuk dalam anggota Program Keluarga Harapan (PKH).

“Dari program ini saya mendapat bantuan modal Rp1 juta,” kenangnya.

Uang Rp1 juta itu, dijelaskan Sainah, bukan untuk belanja namun digunakan untuk kredit freezer sebesar Rp500 ribu dan sisa Rp500 ribu ia simpan.

Baca Juga :  Aisyah DIY Beri Pelatihan Sibori SLB Prayuwana

Dari uang simpanan Rp500 ribu itu, lanjutnya, ia ambil untuk membeli tepung dan daging sebagai bahan pembuatan bakso sebesar Rp40 Ribu.

Belanja dengan uang Rp40 Ribu, Sainah mampu memproduksi bakso sebanyak satu kilo.

“Bakso satu kilo ini saya jajakan keliling dan baru habis selama 3 hari. Uangnya dapat Rp80 ribu,” ungkapnya.

Raut muka Sainah tampak haru ketika harus mengenang pedihnya pertama mulai merintis usaha.

Beberapa kali, ia terlihat harus berhenti untuk bercerita, karena gemuruh yang menganak di sanubarinya.

Kendati perputarannya sangat lamban, sampai tiga hari, lanjut Sainah, ia mengaku tetap bersyukur lantaran bakso miliknya masih bisa laku terjual.

“Saya bertekad, uang hasil penjualan itu saya belanjakan semuanya. Saya tidak ambil sedikitpun. Pokoknya ini biar muter makin besar, makin besar,” ceritanya.

Lambat laun, perputaran hasil penjual bakso itu makin cepat dan terus membesar.
Meski bisnisnya kian hari terus membesar, bukan berarti ia tak memiliki rintangan.

Sainah mengaku sering dicemooh banyak orang karena bakso yang ia jual dianggap aneh karena ditusuk dan tak berkuah.

“Awalnya saya dicemooh banyak orang. Katanya, masa bakso kok ditusuk, dicocol sambal,” kenang dia.

Namun, cemooh yang ia dapatkan selalu ia balas dengan senyuman.

“Saya bilang sama dia, kalau mau nyicip bakso tusuk saya boleh, nggak usah bayar nggak apa-apa,” tuturnya waktu itu kepada orang-orang yang mencemoohnya.

Strategi ini ternyata membuahkan hasil. Usai mencoba bakso tusuk miliknya, orang-orang yang sempat mencemooh semakin ketagihan untuk membeli.

“Mereka pada bilang, bakso tusuk kok enak ya, akhirnya pada beli,” terang Sainah.

Hasil dari kerja keras dan kegigihan yang dilakukan, bakso tusuk Sainah kini laku pesat. Bahkan ia sudah membuka cabang di beberapa tempat.

“Cabangnya ada di kampus institut Seni Indonesia (ISI), di Ganjuran, di Sewon, di Mrican SMK 2 Depok, dan depan kampus UII Kaliurang,” terang dia.

Untuk menjalankan usahanya, Sainah dibantu oleh 24 karyawan untuk membantu proses pembuatan dan penjualan bakso tusuk.

Tingginya permintaan pasar, setiap hari Sainah mengaku mampu menghabiskan tepung sebanyak 80 kilogram, daging ayam 80 kilogram, dan daging sapi 12 kilogram.

“Omzetnya kalau hari biasa Senin sampai Kamis Rp7 juta sampai Rp8 juta. Kalau hari Jumat, Sabtu dan Minggu bisa Rp10 Juta setiap harinya,” ungkap Sainah. # Tribunnews