Beranda Edukasi Pendidikan Keren, Mahasiswa Undip Ini Ciptakan Cairan Antikarat

Keren, Mahasiswa Undip Ini Ciptakan Cairan Antikarat

59
BAGIKAN
Tribunnwews

SEMARANG – Bertempat di Gedung Departemen Teknik Kimia Lantai II Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (FT Undip) Semarang, tiga mahasiswa yang bergabung pada Advanced Mekanik Laboratorium (Alam) bimbingan Dr Ing Silviana sukses membuat produk inovatif.

Adalah Ari Purnomo (21), Ferio Dalanta (21), dan Adelia Dian Oktaviani (20) sukses memproduksi produk bernama Sufoting, dengan bahan dasar pasir silika. Produk tersebut merupakan limbah yang dihasilkan dalam aktivitas geothermal di Dieng Kabupaten Banjarnegara.

Dalam kesempatan itu, ketiganya pun secara khusus menunjukkan cara kerja produk yang dihasilkan dari riset sejak Januari 2018 silam yang kemudian diikutkan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2018 Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Kepada Tribunjateng.com, Kamis (24/5/2018), Ari selaku ketua tim menunjukkan 2 perbedaan antara kertas karton cokelat yang telah disemprotkan cairan silika dengan yang polos (tidak dilandasi cairan).

Pada bagian dasar kedua kertas tersebut kemudian diberi tetesan air beberapa kali. Hasilnya, seperti pada umumnya kertas lainnya, karton tanpa diberi silika tanpa menunggu waktu lama akan meresap ke dalam serat kertas tersebut.

Tetapi cukup mengejutkan, karton yang telah diberi silika, tetesan air langsung tumpah dan tak terlihat ada yang meresap.

Tidak sekadar pada media kertas. Dia juga menggambarkan kinerja cairan silika pada potongan bambu dan kaca. Secara umum, hasilnya sama.

Mahasiswa semester 6 Teknik Kimia Undip asal Serang Provinsi Banten tersebut mengutarakan, dasar awal mereka melakukan riset karena prihatin ketika kerapkali melihat material batang besi atau yang produk berbahan dasar besi mudah mengalami korosi atau berkarat.

Baca Juga :  Pengurus IPM SMP Muhammadiyah PK Solo Dilantik

“Termasuk juga batang-batang bambu. Ketika terkena air hujan pun mudah membusuk, menjamur. Dari situ kami mencari gagasan untuk mengurangi risiko terhadap material (barang) yang selama ini tidak terlalu tahan lama ketika terkena air,” jelasnya.

Mendapat dukungan serta pengetahuan tentang bahan silika dari Silviana, ketiganya pun termotivasi untuk menciptakan suatu produk inovatif. Saat berkunjung ke Pabrik Geothermal Dieng, mereka terkaget, cukup banyak limbah silika di sana.

“Limbah berbentuk gumpalan yang ditampung di sebuah bak sedalam sekitar 8 meter luasannya seperti lapangan tenis itu, sama sekali tidak dimanfaatkan. Berdasarkan data, setidaknya ada 10 ton limbah silika yang dihasilkan per hari,” tuturnya.

Febio menambahkan, produk hasil riset yang dihasilkan itu dapat diklaim dan teruji sebagai produk anti air, anti UV, anti karat, anti jamur, dan self cleaning. Khususnya untuk material-material berbahan besi, bambu, maupun kaca.

“Jika produk-produk yang tujuannya untuk beberapa hal tersebut tentu cukup mahal, tidak menggunakan teknologi praktis, dan bahan kimia campurannya kerapkali bisa mengganggu kesehatan. Sufoting clear and clean. Sudah kami uji,” tutur mahasiswa asal Batam Kepulauan Riau itu.

www.tribunnews.com