loading...

Tribunnews

CILACAP – Puluhan tahun silam, Rawa Bojongrongga di Desa Bojongsari Kecamatan Kadungreja, Cilacap masih senyap. Kala itu, rawa masih dipenuhi pepohonan nipah, eceng gondok, dan tanaman air liar lainnya. Warga pun jarang menjamah tempat itu karena masih menyimpan keangkeran.

Saat Bendungan Menganti Sungai Citanduy mulai dibangun tahun 1990-an, rawa yang mulanya bagian Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy terputus dari induknya.

Kubangan air dengan lapisan lumpur dalam menjelma menjadi danau yang sunyi. Tempat itu sempat terbengkelai dengan aroma wingitnya yang masih tajam.

Tetapi gerak zaman mampu mengubah peradaban. Generasi baru memandang danau dari sisi yang berbeda. Anugerah alam itu mestinya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup manusia.

Warga pun mulai membersihkan wajah danau yang lama kusam karena tak terawat. Rawa yang tadinya menyeramkan disulap menjadi danau yang jelita.

Belasan rumah makan didirikan di atas permukaan danau dengan desain artistik. Warung dibangun berbahan bambu dan kayu yang mencirikan bangunan tradisional. Atap warung masih menggunakan rumbia ala bangunan nenek moyang.

Loading...

Desain bangunan beragam, ada yang menyerupai rumah Gadang, ada pula bermodel Limasan atau rumah Jawa. Antar bangunan dihubungkan dengan jembatan bambu.

Dinding yang dibuat semi terbuka membuat pengunjung dapat merasakan semilir angin danau. Sembari menikmati hidangan, pengunjung bisa menatap langsung pemandangan danau yang eksotis.

Ketenangan danau bisa memberikan energi positif bagi kedamaian jiwa dan pikiran yang sempat kalut karena rutinitas harian

“Dulu memang ada cerita buaya di sini. Tapi itu dulu. Sekarang sudah ada 12 rumah makan berdiri di atas danau,”kata Sururudin, Kepala Desa Bojongsari.

Dengan destinasi kuliner yang memanjakan, tak salah, tempat ini bisa jadi jujugan bagi para penanti magrib (ngabuburit) di bulan Ramadan 2018 ini.

Sembari menanti waktu berbuka, pengunjung bisa menikmati romantisme danau di sore hari. Saat itu, keindahan danau sedang sempurna.
Menjelang tenggelam, matahari memantulkan sinar jingganya ke permukaan air yang jernih. Di bawah cahaya langit yang berkedip, pengunjung akan terbius keindahan danau yang menenangkan.

Tempat ini bukan hanya jadi tempat favorit muda mudi, tetapi juga keluarga untuk menghabiskan waktu sore.

Terlebih warung makan di tempat ini menyediakan menu lengkap untuk berbuka. Mulai aneka minuman segar, hingga menu utama berupa olahan ikan tawar, baik goreng, bakar, hingga asam pedas dan sup tersedia di tempat ini.

Destinasi yang dikelola Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bojongsari ini bukan hanya menyediakan wisata kuliner, namun juga aneka wahana air.

Pengunjung bisa memanjakan diri dengan bermain perahu kayuh menjelajahi danau. Pengunjung hanya dikenakan tarif Rp 15 ribu untuk bisa meniknati wahana perahu bebek ini.
“Semakin lama semakin ramai,” katanya.

Keramaian pengunjung di Danau Bojongrongga ini tentu saja membawa dampak positif bagi peningkatan taraf hidup masyarakat.

Objek wisata ini mampu menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pengelola, pedagang, hingga pegawai di rumah makan ikut menikmati pundi rupiah yang mengalir ke tempat ini.

Desa pun ikut merasakan hasil pengembangan pariwisata itu melalui Pendapatan Asli Desa (PAD). # Tribunnews

Loading...