JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Selamat Tinggal Bagito. Semakin Kesini Program Khusus Warga Kurang Mampu Kian Baik

Tenaga angkut mendistribusikan rastra di Kecamatan Ngadirojo.JSNews/Aris Arianto
Tenaga angkut mendistribusikan rastra di Kecamatan Ngadirojo.JSNews/Aris Arianto

WONOGIRI—Program terbaru berupa bantuan bagi warga miskin yakni Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) saat ini menjadi yang terbaik. Program itu menjadi penyempurna dari sejumlah program sebelumnya seperti Raskin dan Rastra.

“(BPNT) sementara ini adalah program terbaik. Kamu berharap pemerintah desa bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak muncul kecemburuan sosial,” kata Kepala Dinas Sosial Wonogiri, Suwartono, Minggu (17/6/2018).

BPNT jelas dia, bersifat bantuan sosial. BPNT hanya dapat digunakan oleh keluarga penerima manfaat (KPM) sendiri dan tidak akan salah sasaran. Setiap KPM akan menerima bantuan uang tunai Rp 110 ribu namun dalam bentuk saldo di kartu untuk selanjutnya ditukar beras dan telur di agen atau e-Warong. Ada 74.740 KPM di Wonogiri.

Baca Juga :  Safari KB di Puskesmas Wuryantoro Wonogiri Jaring 21 Orang Akseptor, Ternyata Tak Hanya Soal Pemasangan Alat Kontrasepsi

Sementara program sejenis sebelumnya banyak dimulai permasalahan, misalnya salah sasaran. Bahkan jelas dia, selama 12 tahun Raskin dan Rastra berjalan, berdasarkan kajian dan evaluasi Bappenas, selama ini program tersebut banyak yang salah sasaran.

“Yang seharusnya menerima malah tidak terdaftar. Sebaliknya warga mampu malah masuk daftar,” sebut dia.

Menurut dia, hasil evaluasi tim dari Jakarta itu juga menemukan adanya kesalahan di tingkat bawah. Dimana, bantuan pangan dalam bentuk beras tidak diterima utuh. Seharusnya setiap KPM menerima 15 kilogram, namun kadang hanya memperoleh tiga kilogram.

Baca Juga :  Paslon Josss dan Harjo Diminta Bikin Satgas COVID-19, Salah Satunya Untuk Memastikan Pelaksanaan Kampanye Sesuai Prokes, Supaya Terhindar Dari Permasalahan Batasan Massa Kampanye

“Kesalahan di tingkat bawah, dibagi-bagi. Istilahnya Bagito (Dibagi roto) atau Bagilir (dibagi bergilir). Maksudnya mungkin baik, yakni agar tidak muncul gejolak di kalangan masyarakat, supaya tidak ada yang iri. Tapi ini jelas salah,” tandas dia.

Lantaran itu pihaknya mengharapkan program BPNT ke depan, bisa lebih tepat sasaran dan tidak perlu lagi ada Bagito maupun Bagilir. Aris Arianto