JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Tugu Pal Putih di Jogja Dulu Bentuknya Bulat, Ini Sejarahnya

Ilustrasi/Tribunnews

JOGJA  – Tugu Pal Putih adalah landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen peninggalan Sultan Hamengkubuwono I atau Pangeran Mangkubumi (raja pertama Keraton Yogyakarta) saat ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi saat datang ke Yogyakarta. Belum lengkap rasanya jika belum singgah ke Tugu Pal Putih ini.

Di sini anda bisa berfoto dengan latar belakang tugu, serta bisa menyaksikan diorama yang berada di sudut sisi tenggara. Ini merupakan penambahan fasilitas yang diresmikan pada 10 Mei 2015 lalu.

Namun sebelum menjadi seperti yang bisa disaksikan sekarang ini, Tugu Pal Putih pernah beberapa kali mengalami perubahan dan renovasi. Perubahan paling drastis terjadi pascagempa dahsyat pada tahun 1867 yang membuat Tugu Pal ambruk.

Berdasarkan runtutan sejarahnya, Tugu Yogyakarta didirikan pada tahun 1755, tidak hanya sebuah tugu, terdapat banyak filosofi yang menyertai bangunan yang berada di perempatan Jalan Margoutomo (Mangkubumi), Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro.

Bersama Panggung Krapyak, dan Keraton Yogyakarta, tugu Pal Putih adalah bagian dari sumbu filosofi yang membentuk Kota Yogyakarta. Keraton Yogyakarta sendiri dibangun dengan penuh perencanaan.

Pangeran Mangkubumi sebagai pendiri Keraton Yogyakarta selain dikenal sebagai ahli di bidang strategi perang, melainkan seorang arsitek yang memegang teguh nilai historis maupun filosofi. Pemilihan letak Keraton Yogyakarta pun tidak lepas dari nilai filosofis dan magis.

Dari sisi topografi letak Yogyakarta berada di antara enam sungai yang mengapit secara simetris, yakni sungai Code dan Winongo di ring pertama, sungai Gajah Wong dan Bedog di ring kedua, serta sungai Opak dan sungai Progo di ring ketiga. Sisi utara terdapat gunung Merapi dan sebelah selatannya ada laut Selatan.

Baca Juga :  Pulang dari Banten dan Surabaya, 4 Warga Gunungkidul Positif Covid-19

Dalam tradisi Jawa (sebelum Islam masuk) posisi dan kedudukan yang demikian menunjukan Yogyakarta berada pada posisi Sanctuary area (daerah suci).

Dengan setting lokasi tersebut Pangeran Mangkubumi menciptakan sumbu imajiner Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan. Gunung sebagai ketenangan (tempat suci), dataran (Keraton) sebagai tempat bermukim dan beraktifitas, dan laut sebagai tempat pembuangan akhir dari segala sisa di bumi.

Secara simbolis filosofi tersebut digambarkan dengan keberadaan Panggung Krapyak yang berada di sisi paling selatan, Keraton di tengah, dan Tugu di bagian utara.

Bentuk awal Tugu Pal Putih berbeda dengan yang saat ini kita jumpai. Awalnya badan tugu berbentuk silindris (gilig) dan terdapat semacam bentuk bola (golong) di atas badan tugu.  Sehingga pada awalnya bangunan tersebut dinamai Tugu Golong Gilig.

 

Tugu Golong Glig dan Panggung Krapyak merupakan simbol Lingga Yoni yang melambangkan kesuburan. Olah Pangeran Mangkubumi sumbu filosofi yang Hinduistis ini diubah menjadi konsep Islam-Jawa Sangkan Paraning Dumadi.

Dari Panggung Krapayak sampai Keraton melambangkan asal manusia dilahirkan sampai dewasa, menikah, dan melahirkan (Sangkan). Dari Tugu Golong Gilig sampai Keraton melambangkan perjalanan manusia menghadap sang Pencipta (Paran).

Dahulu kala dari komplek keraton, khususnya dari Bangsal Manguntur Tangkil, Tugu Golong Gilig adalah arah pandang Sultan saat melaksanakan proses kehidupannya yang disertai satu tekad menuju kesejahteraan rakyat (golong gilig). Maka Tugu Golong Gilig adalah simbol dari “Manunggaling Kawulo Gusti”, semangat persatuan rakyat dan penguasa demi kesejahteraan rakyat.

Baca Juga :  Tugu Pal Putih Yogya Kembali Dihantui 2 Sosok Pocong Gentayangan

Bentuk Tugu Golong Gilig benar-benar berubah paska terjadi gempa bumi hebat pada tahun 1867. Saat itu bangunan roboh, dan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII kembali dibangun dengan bantuan dari pemerintah Belanda, yang akhirnya selesai pada tahun 1889.

Tetapi bangunan tugu benar-benar berbeda, dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu.

Bagian atas tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Tinggi bangunan lebih rendah 10 meter dari bangunan sebelumnya, yakni hanya 15 meter. Sejak saat itu Tugu dikenal dengan nama De Witte Paal atau dalam bahasa Indonesia Tugu (Paal) Putih.

Saat ini untuk mengetahui sejarah tersebut pemerintah telah membangun diorama dan replika tugu Golong Gilig di sekitar Tugu Pal Putih yang menceritakan secara runtut asal mula bangunan tersebut.

Tidak hanya diorama, terdapat juga miniatur bangunan tugu Pal Putih, keraton, dan Panggung Krapyak, yang mampu memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai sumbu filosofi pembentuk wilayah Yogyakarta.

Karena menjadi Landmark utama Yogyakarta, tak heran kawasan tersebut selalu ramai di datangi wisatawan, terlebih di malam hari. Setiap malamnya ratusan wisatawan foto-foto dengan latar belakang Tugu Pal Putih

“Jika belum foto-foto di Tugu berarti belum datang ke Jogja,” ungkap Andi satu diantara pengunjung Tugu Pal Putih.

Menurutnya selain bisa foto-foto keberadaan diorama dan miniatur tugu, mengunjungi kawasan tersebut juga menambah wawasan sejarah mengenai Yogyakarta dan peninggalan budayanya.

www.tribunnews.com