loading...


Ribuan ikan di karamba WKO mengambang mati mendadak menyusul wabah air putih beracun yang melanda Sabtu (7/7/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Wabah kematian ikan mendadak yang melanda karamba Waduk Kedung Ombo (WKO) memang bukan kali pertama terjadi.  Hampir setiap tahun, kejadian serupa menjadi rutinitas siklus tahunan yang menghantui petani karamba di situ.

Belajar dari pengalaman, para petani sebenarnya sudah mendeteksi gejala bakal munculnya racun air putih nan mematikan itu. Akan tetapi, mereka tak berdaya dan tak kuasa melawan lantaran kemunculan racun itu tak bisa diprediksi meski biasanya muncul di musim pancaroba.

Anton Setiawan (27) petani karamba asal Boyolayar, Ngargosari, Sumberlawang menuturkan wabah upwelling atau yang biasa disebut racun air putih biasanya terjadi antara bulan Juni hingga Juli.

Baca Juga :  Kisah Perjuangan Mbah Pahmi, Kakek Sebatang Kara di Sukorejo Yang Rela Jalan Jauh Demi Kejar Pengobatan Gratis TMMD 

Wabah itu ditandai dengan naiknya air berwarna putih kehijauan dan membawa kotoran sisa pakan dari dasar yang sangat beracun.

“Biasanya ciri-cirinya ikan sudah naik semua. Lalu air sudah berubah putih kehijau-hijauan dan  berbau tajam. Kalau sudah begitu,  petani harus siaga, ” paparnya Minggu (8/7/2018).

Menurutnya,  biasanya wabah air racun itu bisa berlangsung dua minggu hingga satu bulan. Karenanya selama itu pula, petani akan berjaga penuh jika tidak ingin aset ikan di karambanya terimbas kematian mendadak.

Baca Juga :  Belum Ada Sebulan, Proyek Jalan Sambirejo-Musuk Rp 4,7 M Dipenuhi Banyak Retakan. Warga Kecewa Pengerjaan Proyek Dinilai Asal-asalan 

Ia menuturkan wabah kematian ikan di wilayahnya tahun ini memang tak separah tahun lalu. Hal itu karena petani sudah sigap mengantisipasi dengan menggeser karamba menjauh dari titik kejadian.

Sekdes Ngargotirto Suharno mengatakan, setiap bulan Juli hembusan angin dari arah selatan ke utara. Ditambah kondisi air sangat dingin. Ikan mati mendadak biasanya berlangsung tidak lama dan selanjutnya kondisi akan normal kembali.

“Kabar yang saya terima itu banyak ikan mati di daerah Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Boyolali. Tetapi kalau yang sebelah timur persisnya di Ngasinan ini sementara aman. Petani kami yang memiliki karamba di Boyolali  menarik ke arah sragen untuk mendapatkan perlindungan bisa bertahan,” tuturnya. Wardoyo

Loading...