JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Dipertanyakan, Penggalangan Dana Berkedok Pembangunan Musala SD di Sragen. Proposal Kedaluwarsa, Warga Khawatir Hanya Modus Tipu-tipu  

Foto oknum warga Maron yang ditugasi keliling mencari dana dan proposal bertuliskan SD Karanganyar 2. Foto/Istimewa
Foto oknum warga Maron yang ditugasi keliling mencari dana dan proposal bertuliskan SD Karanganyar 2. Foto/Istimewa

SRAGEN- Warga di Sragen Timur diresahkan dengan aksi penggalangan dana berdalih untuk pembangunan Musala SD Karanganyar 2, Sambungmacan. Pasalnya aksi penggalangan dana dilakukan oleh seorang warga tanpa ada surat tugas dari sekolah atau pihak komite.

Ironisnya lagi, penggalangan dana dengan keliling ke warga itu dilakukan dengan proposal yang terdeteksi sudah habis tahun dan banyak kejanggalan lainnya.

Hal itu terungkap ketika beberapa warga di Gondang, mengaku curiga dengan aksi penggalangan dana keliling berdalih untuk Musala SD Karanganyar 2 tersebut. Salah satu warga Gondang, BS, mengatakan penggalangan donasi itu diketahui dilakukan oleh warga Maron RT 3 bernama Darso Wiyono yang dicantumkan di halaman depan proposal.

Yang bersangkutan keliling ke warga dengan bahasa meminta donasi untuk pembangunan Musala SD Karanganyar 2. Meski memberi, namun dirinya sempat bertanya-tanya keabsahan penggalangan donasi itu lantaran proposal hanya kopian dan tertera dibuat tahun 2017.

“Bukan kami nggak ikhlas, tapi memang agak janggal saja. Apakah cari donasi untuk musala betul apa enggak. Soalnya enggak ada surat tugas dari sekolah. Proposal kopian dan tahunnya sudah 2017. Kalau untuk mbangun Musala beneran sih enggak apa-apa,  lha kalau enggak, kan kasihan sekolahnya sudah dipakai ke mana-mana nyari dana. Padahal SDnya di Sambungmacan, nyarinya dana sampai Gondang, ” paparnya Rabu (18/7/2018).

Baca Juga :  Meledak Lagi, Tambah 12 Warga Positif Hari Ini, Kasus Covid-19 Sragen Melonjak Jadi 485. Dua Warga Suspek Kembali Meninggal, Total Sudah 68 Warga Meninggal Terkait Covid-19

Keluhan senada juga dilontarkan warga lain. Bahkan, aktivis LSM Forum Masyarakat Sragen (Formas) asal Gondang, Sumardi juga mengaku banyak mendengar hal itu.

“Kebetulan ada warga yang menyampaikan juga dan yang nyari dana juga sempat datang ke rumah saya. Saat saya cek bersama salah satu polisi, ternyata memang enggak ada surat tugasnya dari sekolah atau komite sekolah. Masa kalau mbangun musala SD harus nretek (keliling) nugasi orang tua kayak gitu. Bahkan sampai luar kecamatan. Makanya kami agak sanksi itu beneran apa enggak, ” paparnya.

Sumardi menguraikan ada beberapa kejanggalan. Di antaranya proposal yang dibawa keliling hanya kopian dan tertera dibuat tahun 2017. Lalu peminta dana juga tak membawa KTP.

Saat ia menanyakan,  oknum tersebut mengaku disuruh oleh tukang kebun SD yang bersangkutan,  bukan dari komite atau kepala sekolah.

Baca Juga :  Kesalahannya Fatal, 12 Peserta Ujian SKB Seleksi CPNS Sragen Dipastikan Langsung Gagal. Satu Peserta Positif Covid-19 Ujian tanggal 28 September, 73 Orang Ujian di Luar Sragen

“Saat diklarifikasi ke tukang kebun, membenarkan bahwa warga bernama Darso itu disuruh mencari dana pakai proposal keliling. Ini kan sudah enggak pas. Kalau pencarian donatur itu bermsalah, siapa yg bertanggung jawab. Kepala sekolah, komite atau tukang kebun?” urainya.

Sumardi menyampaikan pada dasarnya, menggali dana masyarakat sah-sah saja. Akan tetapi semestinya harus memakai prosedur dan surat yang jelas. Ia berharap jangan sampai praktik semacam itu kemudian dicap masyarakat sebagai aksi tipu alias hanya modus saja.

“Apalagi itu memakai nama SD. Kasihan kan,  kalau ternyata tanpa sepengetahuan sekolah atau komite,” imbuhnya.

Kepala SD Karanganyar 2 Sugimin, belum bisa dikonfirmasi. Saat nomor teleponnya dihubungi, yang mengangkat adalah istrinya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sragen, Suwardi mengaku belum menerima laporan atau aduan soal aksi penggalangan dana oleh warga dengan mengatasnamakan SD Karanganyar 2 tersebut. Akan tetapi ia menyampaikan bahwa itu hanya aksi orang yang mencari dana tanpa sepengetahuan pihak sekolah maupun komite. Wardoyo