Beranda Edukasi Akademia Keren! Mahasiswa UNS Buat Material Pembawa Obat Anti Kanker dari Paku

Keren! Mahasiswa UNS Buat Material Pembawa Obat Anti Kanker dari Paku

55
BAGIKAN
Humas UNS

SOLO– Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menunjujkan keunggulannya. Kali ini, salah satu grup program kreativitas mahasiswa (PKM) FMIPA UNS telah berhasil membuat material cerdas pembawa obat antikanker.

Material yang dikembangkan oleh mahasiswa Kimia yakni Indah Retnosari dan kedua kawannya Ikrima dan Amalia telah dipresentasikan dalam seminar nasional bergengsi di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tanggal 12 Mei 2018 dan menyabet predikat sebagai presenter dan artikel terbaik.

Dibawah bimbingan Dr. Teguh Endah Saraswati, salah satu pakar plasma di Indonesia, mereka berhasil mengembangkan material cerdas yang diklaim akan bermanfaat bagi para penderita kanker dengan teknologi plasma secara sederhana melalui metode arc-discharge. Material yang bersifat magnetik ini berhasil disintesis hanya dari paku besi yang kemudian dimodifikasi dengan karbon dan biomakromolekul dekstran yang aman untuk tubuh manusia.

“Dari hasil kombinasi material tersebut, selanjutnya material hasil sintesis terbukti mampu membawa dan melepaskan kurkumin berasal dari kunyit yang secara ilmiah telah banyak dikenal dan dibuktikan sebagai obat antikanker,” urai Indah, Kamis (12/7/2018).

Material yang diberi label “Super AnCur” yang bermakna material superparamagnetik antikanker pembawa curcumin ini telah dioptimasi di laboratorium dan siap untuk diuji secara klinis secara in-vitro dan in-vivo”. Tidak hanya di UGM, hasil riset mereka telah dipresentasikan di seminar nasional diselenggarakan UNS dengan tema “Potensi Bahan Alam Hayati Sebagai Alternatif  Penemuan Obat Baru” awal Mei lalu dengan mendapat banyak atensi dan antusias pertanyaan dari peserta lainnya.

Baca Juga :  14 Mahasiswa Asing Diajak "Mbatik" Langsung ke Desa Pilang Sragen

“Akhir Juli 2018 ini kami juga akan mempresentasikan hasil penelitian kami di ajang bergengsi internasional forum Materials Research Society of Indonesia (MRS-id) on July 31st – August 2nd, 2018 di Denpasar, Bali,” imbuh Indah selaku ketua tim yang mendapat dana DIKTI pada skema PKM-PE tahun ini.

Sementara itu, Pembimbing tim ini, Dr. Teguh, menjelaskan bahwa material ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut karena dengan sifat superparamagnetiknya dapat diaplikasikan tidak hanya sebagai pembawa obat tetapi juga untuk penggunaan lain seperti agen pengontras, material antibakteri, antijamur, dan hipertermia.

“Pengembangan material ini diharapkan mendapat perhatian dan dukungan dari kementrian kesehatan dan industri terkait menuju hilirisasi produk penelitian sesuai yang dicanangkan oleh Kemenristekdikti,” tukas Teguh. Triawati PP