JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Miris 7 Siswi SD Kalangan Gemolong Korban Pencabulan Guru Bikin Trenyuh Para Dermawan. Satu Korban 2 Tahun Syok dan Mengurung di Kamar, Pemkab Diminta Lebih Peduli

Koordinator APPS, Mami Sugiyarsi (dua dari kanan) bersama dermawan sekaligus pengusaha asal Gemolong, Bayu TAB (kanan) saat menyerahkan bantuan untuk keluarga siswi korban pencabulan guru di SD Kalangan Gemolong, Senin (16/7/2018). Foto/Wardoyo
Koordinator APPS, Mami Sugiyarsi (dua dari kanan) bersama dermawan sekaligus pengusaha asal Gemolong, Bayu TAB (kanan) saat menyerahkan bantuan untuk keluarga siswi korban pencabulan guru di SD Kalangan Gemolong, Senin (16/7/2018). Foto/Wardoyo

 

SRAGEN- Dampak buruk kasus pencabulan massal oleh oknum guru SD di Kalangan, Gemolong, berinisial SW (58) ternyata masih berkepanjangan. Hingga dua tahun pascakejadian,sebagian korban dan keluarganya masih mengalami depresi dan tekanan psikis.

Bahkan satu korban Z (12) terdeteksi masih mengalami tekanan psikologis yang sangat parah. Siswi asal Dukuh Kalangan yang dicabuli paling banyak itu bahkan sudah dua tahun memutuskan berhenti sekolah dan hanya mengurung diri di kamar.

“Iya tadi ada satu yang kondisinya sangat miris. Psikologinya rusak. Sudah dua tahun dia berhenti sekolah sejak kelas IV. Kalau melanjutkan harusnya dia sudah lulus SD tahun ini. Kalau lihat orang di luar keluarganya, dia seperti ketakuran dan langsung lari masuk kamar,” papar pengusaha dan dermawan asal Gemolong, Tri Agus Bayuseno (TAB) saat mendampingi Tim Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) menyambangi para korban, Senin (16/7/2018).

Baca Juga :  Kabar Duka, Mubaligh Muda Habib M Asal Sragen Kota Positif Terpapar Covid-19. Awalnya Gejala Batuk, Memburuk Lalu Dirujuk ke RSUD Moewardi Solo, Sumber Penularannya Masih Misteri

Ada tujuh korban yang ditemukan dan diberikan pendampingan. Dalam kesempatan itu, Bayu juga memberikan bantuan santunan untuk para korban dan keluarganya.

Ia mengaku trenyuh melihat penderitaan para korban. Lewat bantuan itu diharapkan bisa membantu untuk penguatan mental korban dan keluarganya agar bisa bangkit kembali.

“Tadi kami bantu santunan, agar bisa digunakan untuk modal dan usaha. Yang penting keluarga dan korban bisa pulih mentalnya dan bisa menatap masa depan yang lebih baik. Kasihan, karena mereka masih kecil, jangkauannya masih panjang. Kasihan kalau harus berhenti sekolah. Orangtuanya juga harus diberikan pendampingan mental karena ada yang malu dan takut dikucilkan, ” terangnya.

Ia berharap kasus di Kalangan, Gemolong itu bisa menjadi perhatian Pemkab. Bahwa tak hanya pengawalan hukum, pendampingan dan pemulihan kondisi korban serta keluarganya, justru menjadi hal utama yang harus diperhatikan.

Baca Juga :  Hadir di Sragen, Ini Dia Juara Stand Up Comedy Sesi HUT TNI yang Digelar Kodim 0725. Mahmud Yunus Jadi Bintang

“Mungkin dinas terkait bisa memberikan bantuan pendampingan lewat psikolog. Agar mental korban dan keluarga bisa pulih dan bangkit menjalani kehidupannya kembali. Yang penting Pemkab mencarikan solusi bagaimana korban bisa lanjut sekolah lagi. Kalaupun tidak lewat formal ya minimal homeschooling atau gimana, ” tukasnya.

Sementara, Koordinator APPS,  Sugiyarsi mengapresiasi kepedulian Bayu TAB untuk memberikan bantuan dan penguatan mental bagi para korban dan keluarganya. Sembari mengawal penanganan kasus itu secara hukum, pihaknya juga akan mengawal pendampingan psikologis korban lewat psikolog.

‘Kami sudah berkoordinasi dengan dinas sosial dan RSUD Moewardi juga. Nanti akan dibantu pendampingan dari dokter anak dan psikolog. Yang penting mental korban dan keluarganya bisa pulih kembali, ” tandasnya. Wardoyo