loading...


Keripik daun murbai

WONOGIRI-Posisinya yang berada di sekitar jalur strategis, Wonogiri-Ponorogo, membuat warga Desa Tunggur Kecamatan Slogohimo terasah kretifitasnya. Potensi alam yang ada di sekitar mereka manfaatkan untuk menunjang perekonomian keluarga.

Tidak hanya itu, warga yang memiliki ketrampilan di bidang tertentu, namun sumber daya alam tidak mendukung, mereka masih tetap bisa berkreasi.

“Memang warga kami itu terkenal kreatif. Warga kami mampu mengoptimalkan sumber daya alam dan sumber daya insaninya untuk berkembang terus,” ungkap Kepala Desa (Kades) Tunggur, Titik Sri Suyatni, Senin (30/7/2018).

Misalnya, ujar dia, banyak tanaman murbai tumbuh subur di sekitar pekarangan. Oleh warga daun dimanfaatkan, tidak hanya untuk pengembangan ulat sutra. Lebih dari itu, merambah ke industri kuliner, kendati masih skala rumahan.

Baca Juga :  Tabrak Lari di Candi Baru Baturetno, Pejalan Kaki Terluka

“Warga membuat keripik daun murbai. Rasanya super krispi,” ujar Bu Kades.

Keripik daun murbai bikinan warga Desa Tunggur, sudah mulai dikenalkan hingga luar kecamatan Slogohimo. Beberapa sudah ikut dalam pameran-pameran industri kecil.

Bu Kades kemudian membeberkan, tidak sedikit pula warganya yang mempunyai ketrampilan mengayam bambu dan rotan. Ketrampilan ini biasanya diperoleh secara turun-temurun, ada pula yang didapat ketika bekerja di perusahaan mebel. Sayangnya, bahan baku tersebut tidak tersedia melimpah di Tunggur.

Bagi warga Tunggur, kenyataan itu bukan sebuah rintangan. Dengan berkelompok mereka mengambil bahan rotan di perusahaan mebel. Selanjutnya dikerjakan di rumah masing-masing. Setelah jadi, diserahkan lagi ke perusahaan yang bersangkutan. Rotan tersebut ada yang dibuat keranjang maupun bentuk hewan seperti gajah, ikan, merak, dan lainnya.

Baca Juga :  5 Kecamatan di Wonogiri Rawan Amblas. PVMBG Harus Turun Tangan

“Istilahnya borongan lepas,” ujar Bu Kades sembari mengatakan ada empat dusun di Tunggur, yaitu Keringan, Senayu, Tunggur, dan Juron.

Kreatifitas juga melebar di ranah sosial. Warga membentuk paguyuban untuk mempererat silaturahmi, dan membantu warga yang membutuhkan bantuan. Dana paguyuban sebagian besar diperoleh dari warga perantau.
Paguyuban yang diberi nama Manunggal itu aktif memberikan santunan kepada warga yang sakit maupun yang meninggal, mengadakan kegiatan HUT Kemerdekaan RI, halal bi halal, membangun sarana penerangan jalan, membangun gorong-gorong menuju makam, dan seterusnya. Aris Arianto

Loading...