JOGLOSEMARNEWS.COM Umum

Nyaris Terlupakan, Juara Dunia Karate Tradisional  Ini Akhirnya Dapat Bonus Rp 40 Juta

Tempo.co

JAKARTA –  Keberhasilan Lalu Muhammad Zohri sebagai juara dunia atletik U-20  sempat membuat “heboh” lantaran sambutan, penghargaan dan bonus yang diberikan pemerintah lumayan besar.

Namun sebelumyna  ada beberapa juara dunia yang mengharumkan nama bangsa, namun tak mendapat sambutan semeriah Zohri.  Salah satunya adalah Fauzan Noor, yang merupakan juara karate tradisional dalam ajang WASO World Championship di Praha, Republik Cek, 28-29 Desember 2017 lalu.

Fauzan merasakan betul kurangnya perhatian untuknya sebelum Zohri juara.  Namun akhirnya, Fauzan pun menerima bonus dari pemerintah.

“Saya terima kasih sekali kepada seluruh perhatian kepada saya. Jadi, saya kembali (dari cek) ke Banjarmasin tanggal 5 Januari 2018. Dari situ saya sudah mengajukan ke sana ke mari karena kita tidak masuk KONI, jadi kayak kurang diperhatikan. Tapi saya tidak mau juga, yang penting saya sudah yang terbaik untuk negara, saya tidak mengharapkan apapun yang penting saya sudah maksimal,” ujar Fauzan di Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga, Senin (23/7/2018).

Kini Fauzan sudah bisa bernafas lega. Ia baru saja mendapatkan penghargaan atas prestasinya. Bersama atlet catur dan wushu yang juga menjadi juara, ia mendapatkan bonus dari Kemenpora. Bonus sebesar Rp 40 juta itu ia terima langsung dari Menpora Iman Nahrawi.

Baca Juga :  Jadi Maling Spesialis Ponsel Kuli Bangunan, 2 Pria Ini Dibekuk Polisi

Saat ditanya akan digunakan untuk apa, ia hanya terlihat tersenyum dan menjawab akan diperuntukkan bagi orang tuanya.

Lalu, bagaimana kisah Fauzan tertarik dengan karate? Ia memilih karate tradisional karena senang dengan keterampilan bela diri. Ia juga semakin termotivasi saat menonton film-film yang dibintangi oleh Jackie Chan dan Jet Li.

Sebelum mengikuti kejuaraan karate tradisional di Cek, ia telah menjuarai beberapa turnamen di Indonesia. Terakhir kali, ia menjadi juara nasional di Sumedang, Jawa Barat, sehingga berhak mewakili Indonesia di Cek.

Meski juara, setelah pulang ke Indonesia ia tidak disambut seperti juara dunia. Ia melanjutkan hidupnya dan menekuni pekerjaannya sebagai pelayan di toko ritel di Banjarmasin.

Pelatih Fauzan, Mustafa, menyatakan bonus dari Kemenpora dan menyebutnya sebagai yang pertama kali.  “Ini (bonus) yang pertama dan sangat besar. Sementara kami tidak pernah membayangkan. Ya sudah seperti biasa (setelah juara) kami mancing, kami latihan siang-malam, kami kerja bakti. Dia kerja di toko, saya jualan biasa di warung, tidak ada kepikiran sama sekali. Jadi betul-betul seperti anugerah yang jatuh,” ujar Mustafa.

Baca Juga :  Jadi Maling Spesialis Ponsel Kuli Bangunan, 2 Pria Ini Dibekuk Polisi

Mustafa menjadi pelatih Fauzan sejak enam tahun lalu. Saat itu Fauzan sedang tidak aktif di dojo (sekolah bela diri) yang lama. Mustafa membuka tempat latihan karate tradisionalnya, Dojo Privat Mandau Borneo, dan Fauzan sering berlatih di sana.

 

Menurut Mustafa, Fauzan anak yang aktif, patuh, dan baik. Mustafa mengungkapkan, Fauzan pernah bekerja membuat jok mobil, menjadi petugas keamanan dua kali, dan terakhir menjadi pelayan di sebuah toko ritel di Banjarmasin. Kini Fauzan sedang menunggu perkembangan pengajuan dirinya menjadi anggota polisi.

Mustafa dan ketua umum Federasi Karate Tradisional Internasional (FKTI) yang juga hadir di Kemenpora, Zudan Arif Fakrulloh, sama-sama berharap Karate Tradisional segera diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia.

“Harapan kami ke depannya karate tradisional bisa masuk ke KONI. FKTI sudah 40 tahun, dukungan baru datang dari kantor Menpora,” ujar Zudan. Zudan juga berharap terciptanya wadah yang menyatukan FORKI yang selama ini membawahi olahraga karate dan FKTI yang fokus di Karate Tradisional.  

www.tempo.co