loading...
Ketua Komisi I, Suroto dan Ketua Fraksi PKB DPRD Sragen, Faturrohman saat menggelar sidak di sekretariat ujian seleksi Perdes oleh AUB di SMKN 2 Sragen, Senin (6/8/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Gelombang kekecewaan atas pelaksanaan seleksi perangkat desa (Perdes) yang digelar serentak di 192 desa di Sragen Senin (6/8/2018) mulai bermunculan. Kekhawatiran akan independensi pelaksakaan ujian Compute Assisted Test (CAT) utamanya oleh LPPM AUB yang digelar di Sragen akhirnya terjadi.

Sejumlah peserta mengaku kaget setelah mendapati skor beberapa saingannya yang berpendidikan lebih rendah dan tak begitu menguasasi komputer, justru jauh lebih tinggi.

Kekecewaan itu diungkapkan oleh beberapa peserta yang mengikuti ujian CAT di SMKN 1 Kedawung. Keluhan dan kecurigaan adanya indikasi permainan skor itu terungkap dari aduan mereka ke LSM Formas yang sempat mengawal dan meninjau pelaksanaan seleksi di SMKN 1 Kedawung.

“Iya tadi banyak peserta yang curhat dan mengadu curiga setelah melihat skor hasil ujian CAT mereka. Rata-rata kecewa karena skor beberapa peserta yang notabene secara pendidikan nggak begitu baik, malah nilainya paling tinggi. Memang tidam ada korelasi khusus tapi melihat kualitas soal dan kompetensinya, peserta merasakan ada kejanggalan, ” papar Anggota Divisi Hukum dan HAM LSM Formas, Sri Wahono, Selasa (7/8/2018).

Baca Juga :  Terungkap, 2 Kasus Baru Positif Covid-19 Sragen, Satu Warga Kalikobok Tanon Kerja Kuli Panggul, Satunya Tenaga Medis dari Gemolong. Diyakini Transmisi Lokal, Gelombang Baru Covid-19?

Wahono menuturkan banyak peserta yang curiga jika komputer diduga memang sudah dikondisikan seperti kabar yang berhembus kencang beberapa hari menjelang ujian.

Dari aduan yang masuk, ia mencontohkan salah satu peserta calon Bayan asal sebuah desa di Kecamatan Tangen yang berijazah sarjana hukum, nilainya CAT hanya 49. Sementara pesaingnya yang notabene hanua lulusan paket C dan lambat mengoperasikan komputer, justru mendapat skor tertinggi 70.

“Banyak lulusan kejar Paket C dan lulusan SMA yang nilainya malah tertinggi. Yang sarjana dan D3 malah nilainya di bawah semua. Ini kan sangat tidak wajar,” terangnya.

Menurutnya apa yang dialami para peserta itu memang dirasakan sangat menyakitkan hati. Sri Wahono menyebut sakit ujian Perdes utamanya oleh AUB saat ini seolah menambah panjang derita calon Perdes yang sebelumnya dikecewakan oleh seleksi LPPM UNS.

Baca Juga :  Kecelakaan Tragis di Tikungan Jetis Sragen, Truk Tangki Terguling Masuk Selokan Sedalam 4 Meter. Truk Dikemudikan Pria dan Bawa Wanita di Sampingnya, Begini Kondisinya!

“Kami juga mempertanyakan komitmen Pemkab untuk menjamin seleksi transparan dan bebas intervensi maupun titipan. Faktanya banyak kejanggalan dan komputer bahkan sempat hang. Ini sangat mencurigakan dan menimbulkan tanda tanya, ” tukasnya.

Saat disidak oleh DPRD Sragen di SMKN 2 Sragen,  salah satu koordinator ujian CAT AUB, Selfi membantah indikasi pengondisian skor untuk ujian CAT oleh LPPM AUB yang marak beredar di lapangan. Ia berdalih jika itu hanya suara saja hal itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Itu tidak mungkin. Karena peserta selesai langsung keluar, admin keluar dan nilai bisa dicetak, ” tukasnya. Wardoyo