loading...
Loading...
Ilustrasi/Tribunnews

JOGJA –  Pertumbuhan kubah lava baru di Gunung Merapi sampai sekarang belum juga berhenti. Hal itu menjadi perhatian utama bagi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

Meskipun dikategorikan laju pertumbuhan volume kubah lava baru masih rendah, aktivitas Gunung Merapi tetap saja tidak bisa diprediksi kapan bakal erupsi efusif dengan magma yang meleleh.

Data terkini yang dirilis BPPTKG Yogyakarta menyebutkan, periode 18 hingga 25 Agustus 2018, volume kubah lava baru Gunung Merapi sudah mencapai 32.000 m3 dengan pertumbuhan volume perhari mencapai 6000 m3 saat ini.

Status Gunung Merapi hingga berita ini diturunkan masih Waspada Level II.

Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida menuturkan, untuk aktivitas kegempaan, dalam minggu ini kegempaan Gunung Merapi tercatat mengalami 46 kali gempa Hembusan (DG), 12 kali gempa Vulkano-Tektonik dangkal (VTB), 29 kali gempa Fase Banyak (MP), 64 kali gempa Guguran (RF), 52 kali gempa LF serta 40 kali gempa Tektonik (TT).

Baca Juga :  Pemilihan Ketua Umum Kagama Periode 2019-2024, Ganjar Pranowo Kembali Terpilih

Seiring dengan pertumbuhan kubah lava, kegempaan pada pekan ini relatif lebih intensif dari minggu sebelumnya terutama untuk gempa LF, RF dan DG.

Sementara itu, untuk morfologi puncak Gunung Merapi, Hanik menjelaskan, pada tanggal 11 Agustus 2018 pukul 08.00 WIB terjadi hembusan cukup besar yang gemuruhnya terdengar oleh warga Deles, Klaten.

Pada tanggal 12 Agustus 2018 dlakukan pengambilan foto menggunakan drone yang menunjukkan adanya material baru yang kemudian dipastikan sebagai kubah lava baru paska letusan 2010.

Baca Juga :  Penggalangan Dana Korban Klitih, Sehari Di-'Posting Terkumpul Rp 3,6 Juta

“Saat ini kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan yang masih rendah
Hanik menambahkan, data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259,21 m.

Deformasi Gunung Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan EDM mulai menunjukkan perubahan berupa inflasi yang masih terhitung kecil.
Sedangkan deformasi dengan menggunakan GPS belum menunjukkan perubahan yang signifikan.

Untuk Emisi SO2, dalam minggu ini pengukuran DOAS (Differential Optical Absorption Spectroscopy menghasilkan nilai rata-rata emisi SO2 puncak Gunung Merapi sebesar 77,33 ton perhari, termasuk masih dalam kisaran normal. #Tribunnews

Loading...