loading...


Yuliantoro

JOGJA – Tujuh puluh perupa melukis on the spot di Plaza Ngasem, Yogyakarta, Minggu (16/9/2018). Mereka terdiri dari Kelompok Seniman Wedangan, Kolcai, ISI (Institut Seni Indonesia), SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) dan perupa undangan lainnya dari berbagai kota di Jawa. Di antara perupa tersebut ada Mami Kartika (istri pelukis Alm Affandi) dan Dian Angraeni (mantan Kepala Taman Budaya Yogyakarta). Tema yang diangkat dalam kegiatan melukis on the spot tersebut Kebersamaan Mensukseskan Festival Seni Budaya Ngawe Kadang.

Melukis On The Spot merupakan rangkaian kegiatan Festival Seni Budaya Wedangan (FSBW) 2018 berlangsung mulai 11 – 20 September 2018. Acara berlangsung meriah mulai pukul 10.00 hingga sore. Bersamaan dengan itu, delapan puluh seniman yang tergabung dalam kelompok seniman wedangan menggelar pameran seni lukis. Pameran tersebut dibuka Wakil Walikota Yogyakarta Heru Purwadi, Selasa (11/9/2018) malam.

Wakil Walikota dalam pembukaan tersebut mengapresiasi semangat Kelompok Seniman Wedangan yang selalu eksis dalam kiprah seni budaya di Yogyakarta. Festival Seni Budaya Wedangan (FSBW) 2018 memberikan kontribusi positif dalam menyemarakan pariwisata di kota budaya ini.

Yuliantoro

“Walau bapak-bapak ini (kelompok seniman wedangan –red) usianya sudah 60 an atau setidaknya di atas 50 tahun, namun semangat nguri-uri budayanya sangat tinggi. Rutinitas menggelar acara seni budaya perlu diapresiasi. Ini menjadi teladan bagi generasi muda dalam melestarikan seni budaya,” ujarnya dalam pembukaan Festival Seni Budaya Wedangan (FSBW) di Plasa Ngasem, Yogyakarta Selasa malam.

Baca Juga :  Miris, Bocah 10 Tahun Ini Dicabuli, Dicekik Lalu Dibuang ke Dasar Sungai

Pameran lukisan kali ini bertema wayang. Delapan puluh seniman lukis yang mayoritas usianya 60 an tahun yang ikut memajang lukisannya antara lain, Bambang Sukono, Totok Sugiyanto, Marsekal Muda Purnawirawan Jack Soedjadijono, Slamet Riyanto, Picuk Siwi Asmara, Agus Supratomo, Subandi, Watie Respati, Heru Londo dan lain.

Dalam FSBW digelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Mangkok atau Drs Totok Sugiyanto, pameran seni rupa, kerajinan, dan kuliner. Sesepuh Kelompok Wedangan Ki Mangkok didampingi Ketua Paguyuban Seniman Budaya Wedangan Ngayogyakarta, Bambang Sukono mengatakan, kegiatan ini kali pertamanya diselenggarakan di Plaza Ngasem, Yogyakarta.

Yuliantoro

Kegiatan pagelaran seni semacam ini, terutama pameran lukis, kata dia, sudah dilakukan 14 kali dengan berpindah-pindah tempat dan terakhir di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada bulan April 2017 lalu. Setidaknya dua kali setiap tahunnya kami berswadaya atau patungan bikin pagelaran. Dan kali pertamanya kegiatan dari Kelompok Wedangan diselenggarakan mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

Baca Juga :  Kepencut Gerobak Sapi Kustom, SBY Pun Rela Rogoh Kocek Rp 40 Juta

Agenda kegiatan Festival Seni Budaya Wedangan selama 10 hari adalah menampilkan, pameran lukisan dari beberapa pelukis dari Yogyakarta, kerajinan rakyat, dan kuliner. Sedangkan malam harinya ditampilkan aneka hiburan, dari wayang kulit, jathilan, angguk, tari klasik, pantomime, dan puisi tari. Juga hiburan aneka musik, dari musik rebana, musik balada, serta band yang beraliran musik dari reggae, klasik rock, hingga musik pop koesplusan.

Selain itu, Ki Mangkok dan teman-teman seniman dari Kelompok Wedangan, berharap, kegiatan di Plaza Ngasem ini bisa menjadi pemantik, agar pemerintah daerah lebih memperhatikan lagi nasib para seniman, setidaknya kemudahan fasilitas pameran atau semacam pasar seni seperti yang pernah dijanjikan.

“Juga diharapkan adanya dukungan dari pihak swasta sebagai sponsorship dalam setiap penyelenggaraan kegiatan semacam FSBW ini. Sehingga seniman lukis khususnya dan para pekerja seni lainnya, bisa lebih sering memamerkan atau promosi karya-karyanya dan berdampak ada interasksi positif dengan masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung,”pungkasnya.

Sementara Bambang Sukono menjelaskan, komunitas Wedangan “Ngawe Kadang” sudah eksis sejak 2009. Kelompok Wedangan bermarkas di Jalan Polowijan, Yogyakarta, tepatnya depan Pasar Ngasem ini diprakarsai oleh Slamet Riyanto, Bambang Sungkono Wijoyo, Naima Farid, dan Totok Sugiyanto (Ki Mangkok). Keempat tokoh pendiri tersebut merupakan alumni dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Baca Juga :  Sebenarnya Ketua KPU Ingin Ada Kampanye di Kampus, Tapi Sayang Terbentur Undang-undang

Diberi nama Kelompok Wedangan, karena mereka sering kumpul-kumpul sambil wedangan ( minum teh-red) di angkringan atau di warung-warung manapun yang cocok untuk ngumpul. Wedangan sendiri mempunyai filosofi ngawe kadang atau mengajak bersahabat. Mereka berdiskusi tentang bagaimana membangun eksistensi perupa dan upaya mensejahterakan para perupa. Hingga akhirnya berkembang jumlah anggotanya sampai 200 orang. “Wedangan itu Ngawe Kadang atas dasar silaturahim. Kalau mau pameran tak perlu ada seleksi. Dan akhirnya terbentuklah PSBWNH dengan akta notaris.” Yuliantoro

Loading...