JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Cukai Rokok Selamatkan Defisit BPJS Rp 16,5 Trilyun, Sudjiwo Tedjo Sebut Perokok Pahlawan Tanpa Tanda Jasa! 

Sudjiwo Tedjo
Sudjiwo Tedjo

JAKARTA-  Defisit keuangan Rp 16,5 trilyun yang mendera Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, akhirnya membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menandatangani peraturan presiden (perpres) soal pemanfaatan cukai rokok dari daerah.

Kebijakan Presiden yang menyentuh rokok itu, rupanya mengundang komentar menggelitik soal status perokok di negeri ini.

Karena cukai rokok digunakan untuk nutup defisit BPJS, kalangan perokok disebut kini diguyoni naik status menjadi pahlawan. Bahkan istilah dari budayawan Sudjiwo Tedjo sampai mengatakan pahlawan tanpa tanda jasa bukanlah guru, melainkan perokok.

Sudjiwo Tedjo menganggap satu-satunya pahlawan tanpa tanda jasa saat ini adalah perokok.

Sekarang satu-satunya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa adalah PEROKOK,” tulis Sudjiwo Tedjo.

Hal tersebut disampaikan Sudjiwo Tedjo melalui media sosial, Twitter pada Rabu (19/9/2018). Gelar pahlawan tanpa tanda jasa menurut Sudjiwo Tedjo tak lagi disematkan untuk guru.

Pasalnya guru kini menerima sertifikat.

Guru yang dulu pahlawan tanpa tanda jasa kini sudah dipamrihi tanda sertifikasi guru,” tulis Sudjiwo Tedjo.

Sudjiwo Tedjo menyebut perokok sebagai pahlawan tanpa tanda jasa bukan tanpa alasan.

Baca Juga :  Pemerintah Mulai Blokir Ponsel Ilegal, Perhatikan Ini Saat Beli Perangkat Telekomunikasi. Pastikan IMEI Sudah Terdaftar di CEIR

Ia menjelaskan meski perokok menyubang pajak Rp 150an triliuan per tahun, namun tidak mendapatkan sertifikat.

Mana sertifikasi perokok yg cukainya aja nyumbang Rp 150an T per tahun? Kami ikhlas… kami ridlo.. kami legowo,” tulis Sudjiwo Tedjo.

Lelucon Sudjiwo Tedjo soal perokok itu dicuit sekitar satu jam yang lalu.

Sebelumnnya pemain film Kafir itu mengucapkan terimakasih kepada Jokowi atas penandatanganan Perpres Cukai Rokok demi mengatasi defisit keuangan BPJS Kesehatan.

Terima kasih Pak Jokowi ud teken Perpres Pajak Rokok buat nalangi BPJS kesehatan,” tulis Sudjiwo Tedjo.

Tak hanya mengucapkan terima kasih, Sudjiwo Tedjo juga menyuarakan nasib kaum perokok.

Sudjiwo Tedjo mengatakan kaum perokok nasibnya kini semakin malang.

Pasalnya menurut Sudjiwo Tedjo ruangan yang disediakan bagi perokok ditempat umum semakin tidak manusiawi, karena terlalu sempit.

Baca Juga :  Dianggap Bikin Gaduh Lewat Unggahan, Pengamat: Presiden Perlu Copot Fadjroel Rachman

Antara Ada dan Tiada, Sudjiwo Tedjo Pertanyakan Keberadaan Ulama

Sudjiwo Tedjo mempertanyakan keberadaan ulama.

Hal itu Sudjiwo Tedjo utarakan langsung melalui akun Twitternya, @sudjiwotedjo, Selasa (18/9/2018).

Pada unggahan cuitannya itu Sudjiwo Tedjo mempertanyakan, jika memang benar ada ulama, lantas mengapa masih banyaknya rakyat yang tidak bisa mengatur diri.

Seperti, lanjut Sudjiwo Tedjo, masih tidak bisa mengantre, buang sampah sembarangan, atau bermain handphone ketika diajak berbicara.

Di satu sisi, pria berusia 56 tahun ini juga mempertanyakan keberadaan ulama jika tidak ada.

Dengan begitu, lanjutnya, mengapa tiap kubu politik kerap mengklaim telah didukung ulama.

Ulama sejatinya ada nggak sih? Kalau emang ada, knp rakyat masih ndak bisa antre, masih buang sampah sembarangan, masih main HP ktk diajak ngobrol pd jadwal yg ud disepakati dll?” tanya Sudjiwo Tedjo dalam cuitannya.

Tp kalau ulama sejatinya gak ada, knp tiap kubu mengklaim didukung ulama?”lanjutnya.

www.tribunnews.com