loading...
Loading...
Istimewa

SOLO– Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menjembatani pelaku ekonomi kreatif subsektor seni pertunjukan dengan lembaga keuangan bank dan non bank. Hal itu dilakukan guna membuka akses Perbankan para pelaku ekonomi kreatif khususnya di subsektor Seni Pertunjukan.

Melalui Bekraf Financial Club (BFC) yang digelar di Alila Hotel, Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (23/10/2018), Deputi Alses Peemodalan Bekraf, Fadjar Hutomo mengakui selama ini subsektor seni pertunjukan dinilai masih kesulitan dalam akses lembaga keuangan.

“Melalui kegiatan ini diharapkan mampu meyakinkan lembaga keuangan perbankan dan non bank untuk menggarap subsektor seni pertunjukan. Kita identifikasi ada masalah apa terhadap akses ini. Kami pertemukan antara pelaku seni pertunjukan dengan lembaga keuangan perbankan agar mereka mengetahui the nature of business dari subsektor seni pertunjukan,” paparnya.

Baca Juga :  Menembus Batas, Ketua PWM Jateng Resmikan Sekolah Unggul

Di ajang BFC tersebut pelaku seni pertunjukan bisa menjelaskan karakteristik dan rantai nilai seni pertunjukan dan model pembiayaan yang diperlukan. Sehingga nantinya lembaga keuangan bisa menyalurkan pembiayaan yang tepat.

“Seni pertunjukan adalah produk yang tidak berwujud seperti halnya produk UMKM. Sehingga lembaga keuangan perlu diyakinkan diantaranya melalui BFC ini, agar seni pertunjukan bisa menjadi tangible maka perlu ditumbuhkan sebsektor ini,” ungkap Fadjar.

Fadjar menambahkan, kontribusi subsektor seni pertunjukan untuk PDB masih sangat kecil dibanding 16 subsektor lainya. Yakni hanya 9,54 persen. Sementara kuliner 41,6 persen, fashion 18 persen dan craft sebesar 16 persen.

Baca Juga :  Mahasiswa UNS Sabet Dua Penghargaan di WINTEX 2019

“Ekonomi kreatif adalah ekonomi yang basis utamanya intellectual property (IP) atau kekayaan intelektual. Tetapi sayangnya, di Indonesia kepemilikan IP masih rendah. Tahun 2016 hanya 11 persen, atau masih dianggap tidak penting. Tantangan kita adalah capacity building belum naik, mindset masyarakat dalam menghargai IP harus diubah,” ujarnya.

Di sisi lain, Pimpinan Cabang BNI Slamet Riyadi Solo, Fahrulrazi mengakui jika selama ini belum ada pembiayaan yang langsung masuk ke seni pertunjukan. Tetapi pembiayaan masuk ke sektor yang menunjang seni pertunjukan.

Baca Juga :  Milad ke-20 Tahun, Solopeduli Memberdayakan dan Memandirikan Negeri

“Seperti kerajinan gitar, kendang, dan penunjang seni pertunjukan lainnya. Karena untuk seni pertunjukan perlu dilihat dulu apakah pertunjukannya rutin dilakukan atau tidak, dan sebagainya karena hal ini akan mempengaruhi pembayaran nantinya,” paparnya.

Sementara itu, BFC tersebut dihadiri sekitar 38 perwakilan lembaga keuangan bank dan non bank serta pelaku ekonomi kreatif subsektor seni pertunjukan. Selain itu juga dihadiri Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo Bandoe Widiarto, serta Kepala OJK Solo Laksono Dwi Onggo. Triawati PP

Loading...