loading...
Ilustrasi/tribunnews

GUNUNGKIDUL – Kabupaten Gunungkidul  mulai memasang kewaspadaan terhadap ancaman bencana kekeringan. Apalagi ketika musim kemarau masih berkepanjangan.

Jika hujan tidak turun hingga awal November Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul dapat menaikkan status ke tanggap darurat.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, Jumat (19/10/2018).

Loading...

“Jika awal November tidak ada juga kunjung hujan status tersebut bisa dinaikkan ke status tanggap darurat, tentu saja kami akan koordinasi terlebih dahulu dengan kecamatan-kecamatan yang terdampak kekeringan,” ujarnya.

Koordinasi yang dilakukan dengan kecamatan berupa pendataan bagaimana keadaan kekeringan di tempat masing-masing, lalu jumlah dana yang dimiliki oleh kecamatan-kecamatan.

“Setiap kecamatan punya anggaran dana untuk dropping air begitu pula BPBD, jika BPBD dan kecamatan telah kehabisan dana untuk dropping serta hujan tak kunjung datang bisa saja dinaikkan statusnya ke tanggap darurat,” paparnya.

Baca Juga :  Lapak Bakal Digusur, 5 PKL Gondomanan Gelar Aksi Topo Pepe di Depan Keraton Yogyakarta

Untuk dropping dari BPBD sendiri, dana untuk dropping air hanya bertahan hingga pertengahan bulan November.

“Kalau di kecamatan macam-macam ada yang dananya habis akhir Oktober, ada juga yang habis pada awal atau pertengahan November,” paparnya.

Edy mengatakan jika status menjadi tanggap darurat kekeringan maka dana tidak terduga di Pemerintah Kabupaten dapat dialihkan untuk dropping air.

Hingga pertengahan bulan Oktober ini kekeringan di Gunungkidul saat ini semakin meluas, total hingga pertengahan Oktober ada 15 kecamatan yang terdampak kekeringan dengan jumlah jiwa 122.100.

Baca Juga :  Kabar Duka, Seniman Kondang Djaduk Ferianto Meninggal Dunia, Butet Kartaradjasa : Sumangga Gusti

“Ada 15 kecamatan yaitu Girisubo, Nglipar, Paliyan, Panggang, Purwosari, Rongkop, Tanjungsari, Tepus, Ngawen, Ponjong, Saptosari, Semin, Semanu, Pathuk,” paparnya.

Edy mengungkapkan beberapa kecamatan awalnya mengembalikan tangki air ke Kabupaten tetapi saat ini mengajukan droping air.

“Ada beberapa wilayah yang mengembalikan tangki air pertama Wonosari, memang Wonosari tidak terkena kekeringan. Kemudian Semanu karena dinilai tidak efektif jika melakukan dropping lewat kecamatan karena yang terdampak hanya di Desa Dadapayu dan satu padukuhan. Kemudian Saptosari,” terangnya.

Ia menjelaskan jika di Kecamatan Saptosari memang sudah ada aliran perpipaan dari PDAM, tetapi di beberapa titik PDAM macet, sehingga Saptosari melakukan dropping air dan memang jumlah tidak banyak.

Baca Juga :  Tagihan Capai Rp 56 Juta, Keluarga Korban Klitih di Jalan Kenari Yogyakarta Bingung Bayar Biaya Rumah Sakit

Sementara itu Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial, Kecamatan Tanjungsari Suwanto menuturkan 125 tangki yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi musim kemarau telah habis.

“Kami disarankan untuk membuat surat ke Bupati, selain dibantu dropping oleh pihak BPBD kami juga banyak menerima bantuan dropping air dari pihak swasta,” ujarnya.

Suwanto menjelaskan saat ini beberapa di wilayahnya sudah ada PDAM, tetapi aliran PDAM di masyarakat yang didaerah tinggi perlu dibantu karena sering macet.

“Untuk telaga sudah kering, sudah sejak Agustus telaga kering, memang di Tanjungsari kekeringan di titik-titik tertentu, seperti di Dusun Kemiri, Wates, Panggang, Kelor Lor, Kanigoro, juga masih minta dropping air,” ungkapnya. #tribunnews

Loading...