JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Ayu, Siswi Yatim di Karanganyar Yang Rela Jualan Cilok Demi Bisa Sekolah dan Menghidupi Adiknya..

Ida Ayu saat melayani teman-temannya yang membeli dagangan cilok, Selasa (23/10/2018). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Ida Ayu saat melayani teman-temannya yang membeli dagangan cilok, Selasa (23/10/2018). Foto/Wardoyo

KARANGANYAR- Tangan Ida Ayu Riski Susilowati (18) terlihat  begitu cekatan ketika melayani pembeli cilok buatannya sendiri, Selasa (23/10/2018). Ayu tidak merasa canggung dan malu, meskipun yang dilayaninya adalah teman-temannya sendiri di SMK Bhakti Karya Karanganyar.

Saat disambangi di jam istirahat di sekolahnya, siswi berhijab itu menuturkan sudah berjualan cilok yang merupakan panganan khas Jawa Barat ini, sejak setahun lalu. Hal itu dilakukannya untuk biaya sekolah dan biaya hidup sehari-hari bersama sang adik.

Aktivitas sekolah sambil jualan itu juga untuk menyambung kebutuhan dan biaya sekolah mengingat statusnya sebagai amak yatim.

Selama ini,  ia tinggal bersama dengan adiknya Sudrajat Ariayat Moko Saputra. Keduanya menempati rumah peninggalan orang tuanya di Kebonagung RT 6/6, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganya.

Ibunya, Tumiyati (52) bekerja di Bekasi dan ayahnya, Sukirno, sudah meninggal sekitar dua tahun silam.

Ayu merupakan anak ketujuh dari 10 bersaudara. Beberapa kakaknya sudah mempunyai tempat sendiri.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut 2 Truk Tronton di Masaran Sragen, Satu Sopir Tewas Mengenaskan Terjepit Bodi Yang Ringsek

Sehingga, tidak tinggal satu rumah dengannya. Ayu menceritakan, niat untuk berjualan cilok berawal dari keinginnannya untuk hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Dengan modal pinjaman Rp 150.000 serta sepeda yang juga pinjaman dari saudaranya, ia mulai berjualan cilok.

“ Modal awalnya pinjaman, sepeda juga pinjaman. Alhamdulillah, pinjaman sudah lunas,” ujarnya, Selasa (23/10/2018).

Ayu menuturkan aktivitasnya dengan cilok ia mulai ketika pulang sekolah. Setiap pulang sekolah Ayu  membeli bahan-bahan untuk membuat cilok.

Seperti terigu, tepung kanji, dan sejumlah sayuran. Seperti wortel, bayam, telur dan juga kacang.

Menurutnya, bahan baku tersebut, kemudian diracik usai sekolah.

Meski sekolah sambil berjualan clok, Ayu tidak meninggallkan kewajibannya untuk belajar.

Ayu mengaku belajar hingga pukul 20.30 WIB dan pukul 02.30 WIB ia bangun untuk memulai aktivitasnya.

” Dini hari saya mulai meracik adonan yang sudah disiapkan, kemudian memasaknya. Cilok-cilok yang sudah  matang tersebut, di tempatkan ke dalam dandang kecil. Selanjutnya saya taruh  di dua buah kotak yang di pasang di kursi pembonceng di sepeda. Setelah semua selesai, saya langsung berangkat ke sekolah, sambil menjajakan cilok ,” kata dia.

Baca Juga :  Hadapi Masa Darurat Pandemi, Semua Guru MTsN 1 Sragen Digembleng Pelatihan Pendidikan Daring Jarak Jauh. Plt Kepala Madrasah Sebut Sekaligus Bekal Era Digital 4.0

Semua aktivitas itu ia lakukan sendiri. Baginya sudah terbiasa dengan rutinitas tersebut. Setidaknya sudah setahun ini, ia melakukannya. Atau semenjak ia duduk di kelas XI. Dengan keuntungan rata-rata Rp 30.000 per hari, Ayu dapat memenuhi kebutuhannya dan membiayai adiknya sekolah.

“Saya tidak malu berjualan. Selama menghasilkan dan halal, saya tidak malu. Hasil jualan ini, saya gunakan untuk biaya hidup dan biaya sekolah. Saya tidak ingin bergantung pada orang lain,” ujanya penuh semangat.

Saat ini Ida duduk di kelas XII SMK Bhakti Karya, Karanganyar. Tepatnya di kelas XII, jurusan akuntansi. Ia berharap bisa lulus dan bisa sukses setelah lulus nanti. Wardoyo