loading...
Loading...
Perjuangan enam warga Karanganyar yang lolos dari Gempa Tsunami Palu dan tiba di Karanganyar Jumat 5/10/2018. Foto: Istimewa

KARANGANYAR- Gempa bumi  dan Tsunami yang terjadi di Palu, menyisahkan cerita miris bagi Dwi Purnomo, salah satu korban selamat yang  berhasil pulang ke kampung halamannya di Karangpandan.

Kepada wartawan, Dwi Purnomo, usai diterima bupati Karanganyar, Juliyatmono,  menuturkan, dia berangkat ke Palu untukmenyambung hidup memenuhi kebutuhan anak-anak.

Dwi mengungkapkan, setahun lalu, isterinya meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup anaknya yang masih kecil, terutama untuk membeli susu, dia nekad berangkat ke Palu.

Baca Juga :  Korban Umroh First Travel asal Karanganyar Syok Dengar Putusan MA. Sebut Uang Tak Harusnya Dirampas Negara  

“ Saya berangkat ke Palu untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Dwi, Jumat (05/10/2018).

Dwi dan kawan-kawan, berangkat ke Kota Palu sekitar satu bulan lalu dan bekerja sebagai pekerja bangunan di salah satu proyek perumahan, dengan penghasilan Rp 100.000 per hari.

Harapan untuk memperoleh penghasilan yang cukup menjadi sirna ketika terjadi gempa dahsyat di Palu. Dwi Purnomo pulang tanpa membawa hasil. Bahkan untuk pulang ke Karanganyar, mereka dibelikan tiket pesawat oleh relawan Karangpandan.

Baca Juga :  Sambangi Pabrik Acidatama di  Karanganyar, Menteri Pertanian Ingatkan  Pengunaan Zat Kimia Yang Ramah Linkungan! 

“ Saat gempa, kami baru selesai kerja dan akan persiapan lembur. Tiba-tiba terjadi gempa hebat. Dengan pakaian yang masih kotor, kami semua berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Setelah hampir dua hari di daerah aman, selanjutnya pulang ke Karanganyar. Saat pulang, saya tidak bawa uang, karena memang gaji kami selama satu bulan belum dibayar,” ujarnya. Wardoyo

Loading...