loading...

 

Ilustrasi. pixabay

JAKARTA–Perkembangan teknologi informasi sangat mempermudah manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Namun di balik itu teknologi informasi juga berperan besar dalam penyebaran hoax atau berita bohong.

Peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan mengatakan berita bohong atau hoax terjadi dengan mudah karena dipengaruhi sejumlah faktor.

Loading...

Rafif mencontohkan media sosial yang banyak digunakan masyarakat untuk berkomunikasi. Ia menyebut medium tersebut sebagai pasar bebas lantaran informasi yang mengalir di dalamnya tak tersaring. “Di media sosial, tidak semua ada faktanya,” kata dia di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (6/10/2018).

Baca Juga :  Kisah Nenek Berusia 102 Tahun di Semarang, Suka Makan Sambal Cabe Rawit dan Minum Air Es

Kondisi tersebut semakin buruk dengan hilangnya etika saat menyampaikan pendapat di media sosial. “Masyarakat dapat dengan bebas bersuara,” katanya.

Rafif menuturkan media sosial juga telah menggerus peran media mainstream sebagai acuan. “Media mungkin punya channel Youtube, Instragam, atau yang lain. Tapi masih kalah dengan akun-akun lambe,” kata dia.

Baca Juga :  Kisah Nenek Berusia 102 Tahun di Semarang, Suka Makan Sambal Cabe Rawit dan Minum Air Es

Ia menilai perlu adanya regulasi mengatur pasar bebas tersebut. Selain itu, harus ada edukasi mengenai penyebaran hoax. Menurut Rafif, masyarakat perlu diberi tahu cara membedakan berita benar dan bohong.

Rafif juga mencatat perlu ada peran elit politik di dalam negeri untuk mencegah penyebaran hoax. “Anda ini orang terdidik dan mewakili suara rakyat sehingga harus berkomitmen dengan demokrasi yang sehat,” ujarnya.

Baca Juga :  Kisah Nenek Berusia 102 Tahun di Semarang, Suka Makan Sambal Cabe Rawit dan Minum Air Es

www.tempo.co

Loading...