loading...
Loading...
Tribunnews

JOGJA – Pertumbuhan kubah lava di Gunung Merapi terus terjadi, hingga terjadi plerubahan morfologis. Tercatat, setiap harinya pertumbuhan kubah lava itu mencapai 1.000 meter kubik tiap harinya.

Namun menurut BPPTKG Yogyakarta, ternyata angka tersebut masih terhitung rendah karena masih di bawah 20.000 meter kubik per hari.

Secara faktual, gundukan kubah lava baru Gunung Merapi (2.930 mdpl) semakin terlihat jelas dari Dusun Balerante, Kemalang, Klaten, Jateng, Selasa (9/10/2018).

Saat cuaca cerah dan puncak tak tertutup awan atau kabut, lava yang terbentuk sejak 18 Agustus 2018 itu bisa dilihat dengan mata telanjang. Asap cukup tebal mengepul di celah kubah lava 2010 sektor tenggara.

Kubah lava baru Merapi itu menumpuk di atas sumbat atau kubah lava erupsi 2010, yang ada di dasar kawah gunung yang terletak di perbatasan DIY-Jateng ini.

Data terbaru yang dipublikasikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, volume lava per 5 Oktober 2018 tercatat 136.000 meter kubik dengan pertumbuhan rata-rata 1.000 meter kubik per hari.

Dengan angka pertumbuhan ini, per 9 Oktober 2018 ini diperkirakan volumenya sudah naik lebih kurang 3.000 meter kubik, menjadi 139.000 meter kubik.

Aktivitas Gunung Merapi saat ini ada di fase erupsi bersifat efusif, ditandai keluarnya material lava yang kemudian membeku di puncak. Kubah lava baru ini dinyatakan masih stabil.
Aktivitas penduduk di dusun-dusun di lereng

Baca Juga :  Pemilihan Ketua Umum Kagama Periode 2019-2024, Ganjar Pranowo Kembali Terpilih

selatan dan tenggara Merapi sampai saat ini masih normal. Mereka berkebun, mencari rumput di kawasan bawah puncak tanpa rasa khawatir.

Penambangan pasir di alur Kali Woro dan Kali Gendol antara Dusun Srunen, Glagaharjo, dan Dusun Kopeng, Kepuharjo juga terlihat semarak.

“Biasa saja Mas, kita tetap cari rumput dan kayu di dekat puncak sana,” kata Rubiyem, warga Balerante saat ditemui sedang pulang mencari rumput dari hutan di bawah puncak.

Menurut Rubiyem dalam beberapa hari atau pekan terakhir ini, ia tidak mendengar atau merasakan keganjilan apa-apa dari puncak gunung.

“Kalau gundukan hitam (kubah lava baru) di puncak sana itu sudah beberapa hari terlihat. Asapnya juga terus mengepul,” lanjutnya.

Puryanto, penduduk Balerante lain yang ditemui sedang berada di kawasan wisata Kali Talang, mengatakan, pertumbuhan kubah lava baru Merapi terus dipantau oleh warga.

Kegiatan ronda atau jaga malam terus digiatkan setiap malam di Balerante dan sekitarnya maupun di Dusun Srunen, Kalitengah Kidul, dan Kalitengah Lor di wilayah Cangkringa, Sleman.

“Sejauh ini kita tidak merasakan gejala-gejala aktivitas di atas sana, apakah itu suara atau getaran,” kata Puryanto.

Hasil analisis BPPTKG Yogyakarta berdasar data yang dihimpun, mulai terjadi perubahan morfologi (bentuk) di sektor tenggara.

Perubahan itu terjadi karena pertumbuhan kubah lava yang rata-rata per hari 1.000 meter kubik. Angka ini terhitung rendah karena masih di bawah 20.000 meter kubik per hari.

Baca Juga :  Cintanya Tak Direspon, Seorang Pelajar SMA Nekat Tusuk Ibu Gurunya di Bantul

Pantauan antara 28 September hingga 4 Oktober, kegempaan terus terdeteksi berasal dari gempa hembusan sebanyak 55 kali.

Kemudian 10 gempa vulkanik tektonik dangkal (VTB), 27 kali gempa fase banyak (MP), 148 kali gempa guguran, 31 gempa frekuensi rendah, dan 20 kali gempa tektonik.

Dari data pengukuran EDM, deformasi tidak menunjukkan peruibahan signifikan. Untuk pengukuran emisi gas, sepanjang pekan itu diperoleh data rata-rata emisi SO2 sebesar 77,96 ton/day, atau masih di kisaran normal.

Dari hasil pengamatan dan analisis itu, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan tetap berstatus “Waspada”.

Terkait aktivitas vulkanik dan statusnya itu, BPPTKG Yogyakarta merekomendasikan radius 3 kilometer dari puncak gunung harus steril.

Masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III seperti disampaikan Kepala BPPTKG Yogyakarta, Nanik Humaida, diminta meningkatkan kewaspadaan.

Peristiwa agak menonjol di kawasan lereng dan puncak, yang terpantau petugas dari Pos PGM Babadan, terjadi Senin (8/10/2018).

Terlihat pasir halus dan debu vulkanik di lereng barat beterbangan cukup pekat, akibat tiupan angin kencang berkecepatan 40 kilometer per jam.

Feneomena ini dinilai tidak membahayakan karena kemarau membuat material pasir dan debu di permukaan lereng gunung sangat kering dan mudah terbang karena terpaan angin. #tribunnews

Loading...