JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Ujian CAT CPNS Solo, Sudah 141 Pelamar Dipastikan Gugur. Walikota Sebut 7.000 Pelamar Lebih Berebut 200 Kursi Tenaga Kesehatan di Solo 

Walikota Solo, FX Hadi Rudiyatmo didampingi Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati usai meninjau tes CAT CPNS di GOR Diponegoro. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

 

SRAGEN-  Sebanyak 141 peserta tes seleksi CPNS formasi Kota Surakarta dipastikan gugur lantaran tidak hadir mengikuti ujian CAT di GOR Diponegoro Sragen. Mereka langsung gagal lantaran tidak ikut ujian yang telah berlangsung selama tiga hari, Sabtu-Senin (27-29/10/2018).

Berdasarkan rekapitulasi hingga hari ke dua yang dicatat BKPPD, total ada sebanyak 141 peserta tidak hadir. Sekretaris Badan Kepegawaian Pelatihan dan Pendidikan Daerah (BKPPD) Solo, Dwi Ariyanto menyebutkan, pada tes hari pertama, dijadwalkan 678 peserta dalam tiga sesi. Dari jumlah tersebut hanya hadir 636 peserta.

Baca Juga :  Modal Dengkul dari Rumah, Pencuri Ini Nekat Naik Bus Sumber Selamat Turun di Sragen. Hanya Hitungan Menit, Pulang Sudah Bawa Motor dan HP milik Warga Sambungmacan

Sementara 42 peserta tidak diketahui keberadaannya. Sedangkan pada tes hari kedua, dijadwalkan 2.250 peserta untuk lima sesi. Namun pelamar yang hadir hanya 2.151 orang.

“Sedangkan 99 peserta tes tidak hadir di Sragen,” katanya.

Pihaknya tidak mempermasalahkan ketidakhadiran peserta tes CPNS, karena menjadi hak masing-masing. Namun dia memastikan tes CPNS untuk kota Surakarta berlangsung lancar sesuai jadwal.

Sementara, Walikota Solo, FX Hadi Rudiyatmo mengaku kecewa dengan sistem seleksi CPNS tahun ini yang dinilainya tidak adil.

Baca Juga :  Kanjeng Senopati, Kerabat Keraton Solo Berniat Maju dalam Pilwakot Solo 2020, Siapa Dia?

Ia mencontohkan seleksi CPNS untuk formasi tenaga kesehatan di Kota Bengawan. Pemkot hanya mendapatkan kuota 200 tenaga kesehatan. Kuota itu diperebutkan oleh lebih dari 7.000 peserta. Dengan komposisi tersebut peluang setiap peserta adalah 1 dibanding 35.

“Ini kan tidak efektif. Pemerintah ini melakukan pemborosan karena hanya menyediakan kuota sedikit. Padahal peminatnya sangat banyak. 7.000 pendaftar yang diterima 200. Yang diterima dengan biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding,” katanya seusai meninjau tes di GOR Diponegoro Sragen, Senin (29/10/2018). Wardoyo