loading...


Kasat Lantas Polres Sragen, AKP Dani Permana Putra saat menyalami supeltas Mbah Sutardji di Kauman, Sragen, Selasa (13/11/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Siang itu panas mentari sangat menyengat. Saat berpatroli di jalur belakang Pendapa Rumdin Bupati, mendadak pandangan Kasatlantas Sragen, AKP Dani Permana Putra terusik sosok pria tua yang berdiri di perempatan jalan Kauman, Sragen.

Sejenak Kasatlantas mengamati seksama kakek berseragam rompi hijau terang khas polisi itu. Saat arus kendaraan padat, sang kakek itu mulai beraksi memainkan aba-aba dan alat sederhananya.

Bak anggota polisi lantas, kakek itu dengan fasih mengatur arus agar tak ada yang melanggar satu sama lain. Aksi sang kakek itu langsung membuat Kasatlantas turun dan menghampiri.

Tak banyak bicara, AKP Dani langsung menyalami dan menunduk tanda apresiasi.

Ya, itulah sosok Mbah Sutardji. Sukarelawan pembantu lalu lintas atau yang akrab dikenal dengan istilah Supeltas. Kakek berusia 70 tahun asal Sragen Kota itu rupanya menyimpan keistimewaan hingga membuat Kasatlantas pun langsung angkat topi.

Baca Juga :  Komite dan Warga Sidoharjo Resah Lapangan SMPN 2 Diduga Dirombak Jadi Sawah dan Dijual Secara Diam-diam. Desak Dinas Segera Turun Tangan

“Bukan apa-apa. Ternyata beliau itu sudah 20 tahun mengabdikan dirinya di tengah jalan bergelut melawan panas terik, hanya demi membantu mengatur lalu lintas. Sederhana tapi luarbiasa kami melihat semangat besarnya,” papar Kasatlantas Senin (12/11/2018).

Foto/Wardoyo

AKP Dani menguraikan ia begitu salut lantaran melihat keihklasan sang kakek yang seolah tak kenal waktu mengabdikan diri membantu mengatur lalu lintas di perempatan Kauman. Tak hanya di pagi hari, di siang hari dan di jam sibuk pun ia selalu hadir di lokasi yang sama.

“Dulunya dia tukang becak dan selalu pakaiannya seperti itu. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengabdi menjadi Supeltas karena prihatin banyak kecelakaan di situ. Yang bikin saya trenyuh di usia beliau yang sudah sepuh (tua) itu masih semangat mengabdi untuk masyarakat. Dia juga menyiapkan alat untuk stop dengan alatnya sendiri,” urai Kasatlantas.

Baca Juga :  Kisah Pilu Kecelakaan Maut 2 Tewas di Tol Sragen-Ngawi. Lolos Dari Maut, Bulan Bocah 12 Tahun Harus Kehilangan Sang Ibu

Sementara, dari penuturan Mbah Sutardji, dirinya sebenarnya sudah dilarang oleh anak-anaknya dan diminta berhenti menjadi Supeltas. Hal itu tak lepas dari kondisi fisiknya yang sudah termakan usia.

Namun ia tetap bersikukuh mengabdikan diri karena satu motivasi.

“Saya hanya ingin di wilayah sini nggak banyak kecelakaan lagi. Kalau dikasih ya diterima, enggak juga enggak apa-apa. Itu saja,” tuturnya.

Karena perjuangan keras dan kerelaannya, Kasatlantas pun mengapresiasi. Sebagai bentuk apresiasi, pihaknya langsung memberikan peralatan untuk pengaturan arus lalin dan disambut gembira oleh kakek itu.

Baca Juga :  Sukses Giring Ratusan Ibu-Ibu Ikut KB, Bidan Desa di Sidoharjo Sragen Terpilih Jadi Duta KB OC Nasional

Sementara sebagai wujud perhatian atas pengabdian besarnya, Kasatlantas mengaku sudah menyiapkan sesuatu reward untuk sang kakek.

“Sesuatu yang istimewa. Ini sudah kami siapkan,” tandasnya. Wardoyo

 

Loading...