JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

3.000 Lebih Peternak Sudah Gabung Kemitraan PT WMP TAB. Keuntungan Menjanjikan, Begini Cara Bergabungnya! 

Ilustrasi peternak sapi Sragen yang tergabung dalam PPSS terkagum melihat sapi lokal keturunan Limosin di Peternakan PT WMP Klaten saat menggelar studi banding, Minggu (18/3/2018). Foto/Istimewa
Tri Agus Bayuseno. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Program kemitraan dengan masyarakat dan peternak yang digulirkan PT Widodo Makmur Perkasa (WMP) mendapat respon positif. Sejak digulirkan sekitar setahun silam, hingga kini ada sekitar 3.000 lebih peternak di tiga wilayah Sragen, Wonogiri, Karanganyar yang menjadi anggota kemitraan dengan perusahaan peternakan yang dipimpin pengusaha muda asal Sragen, Tri Agus Bayuseno (TAB) itu.

“Kita sudah kembangkan pola kemitraan dengan masyarakat dan peternak yang ada di Wonogiri, Sragen dan Karanganyar. Sejauh ini sudah ada skeitar 3.000 lebih yang bergabung. Paling banyak di Wonogiri, ternaknya sapi,” papar Bayu yang akrab disapa Bayu TWB itu kemarin.

Menurutnya, program kemitraan yang ditawarkannya ada dua jenis. Yakni ternak sapi dan ayam potong.

Untuk ternak sapi ada yang penggemukan ada pula yang peranakan atau breeding.

Pengusaha sukses kelahiran Gemolong Sragen itu menguraikan program kemitraan yang ditawarkannya memang berorientasi lebih membantu petani atau peternak. Mekanisme untuk bergabung, yakni dengan membentuk kelompok ternak sejenis (ayam atau sapi) dan kemudian baru berkoordinasi dengan tim PT WMP.

“Kami memang ada tim khusus yang mengelola peternakan dan kemitraan dengan petani. Jadi kelompok yang siap, nanti pertamanya akan kita berikan pelatihan dan penjelasan teknis maupun pengelolaannya untuk memantapkan mindset mereka. Setelah itu kita follow-up dengan meninjau ke lapangan bagaimana pengelolaan peternakan dan teknis budidayanya termasuk pakan yang sudah diramu khusus,” paparnya Senin (3/12/2018).

Baca Juga :  Duh Gusti, Meledak Lagi Tambah 19 Positif Hari Ini, Total Kasus Covid-19 Sragen Melonjak Jadi 452. Kontak Erat Tercatat 644 Orang, Sudah 59 Warga Meninggal Dunia

Lebih lanjut, Bayu yang juga Caleg DPR RI Dapil Sragen-Wonogiri-Karanganyar dari Hanura itu menguraikan jika sudah mantap, maka kelompok akan difasilitasi mengajukan permodalan ke lembaga perbankan penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Untuk kredit, pihaknya memang sudah ditunjuk sebagai pendamping untuk program penguatan KUR bagi kelompok usaha. Setelah modal cair, maka kelompok akan didrop dengan bibit sapi atau ternak sesuai dengan yang akan dibudidayakan.

“Bibitnya sapi atau ayam memang dari kami karena biar kualitasnya yang terbaik. Kalau sudah bibit, kita akan dampingi pengelolaannya melalui petugas khusus yang memang ahli di bidangnya. Untuk pakan kita suplai dengan pakan yang sudah kita sesuaikan komposisinya terbaik. Karena kita punya pabrik pakan sendiri yang kandungan nutrisinya sudah diramu sedemikian rupa. Untuk sapi ya tiap hari targetnya memang penambahan bobotnya harus 1 kg ke atas. Pun dengan pakan ayam juga sudah kita suplai,” terangnya.

Baca Juga :  Tragis, Ditunggu-Tunggu Hingga Petang, Kartini dan Anaknya Histeris Lihat Suaminya Sudah Tewas Tergeletak di Sawah Jurangjero Karangmalang Sragen
Peternak sapi Sragen yang tergabung dalam PPSS terkagum melihat sapi lokal keturunan Limosin di Peternakan PT WMP Klaten saat menggelar studi banding, Minggu (18/3/2018). Foto/Istimewa

Sementara untuk pascapanen, peternak mitra juga tak perlu khawatir dan pihaknya membebaskan. Bayu memastikan jika harga pasaran lebih tinggi dan peternak pilih jual di luar juga boleh. Namun ketika harga pasaran lebih rendah atau peternak kesulitan menjual, pihaknya pun siap membantu menjualkan.

“Tujuan kami memang ingin memberdayakan masyarakat atau peternak agar lebih maju. Dengan pendampingan, margin keuntungan mereka akan lebih tinggi. Alhamdulillah sudah mulai banyak dirasakan oleh peternak. Di Wonogiri misalnya untuk sapi sekali turun itu ada 30 ekor. Di sana kelompok memang sudah mapan. Kalau untuk ternak ayam yang minimal pertama 5.000 ekor per kelompok. Nanti harus meningkat lagi. Kenapa kita wajibkan kelompok, agar mereka bisa saling mengontrol dan berbagi ilmu satu sama lain. Jadi yang belum bisa, bisa diajari oleh yang sudah bisa,” tandasnya. Wardoyo