JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Dibalik Tradisi Kirab Mbisu, Ini Makna dan Harapan Warga Terhadap Pemimpin Baru di Karanganyar 

Arak-arakan warga menggelar ritual kirab lampah mbisu menyambut pemimpin baru Karanganyar, Minggu (16/12/2018) malam. Foto/Wardoyo
madu borneo
madu borneo
madu borneo

Arak-arakan warga menggelar ritual kirab lampah mbisu menyambut pemimpin baru Karanganyar, Minggu (16/12/2018) malam. Foto/Wardoyo

KARANGANYAR- Aksi kirab Lampah Mbisu yang digelar Minggu (16/12/2018) malam juga menyiratkan harapan warga atas dilantiknya duet pemimpin baru Karanganyar, Juliyatmono-Rober Christanto.

Salah satu panitia acara,  Aris Susanto sampaikan aksi kebudayaan itu juga sebagai bentuk keprihatinan munculnya ujaran kebencian, permusuhan, fitnah, serta provokasi sesama anak bangsa belakangan ini.

“Menjelang Pilpres saat ini, kita bisa saksikan maraknya ujaran kebencian, provokasi, maupun penghinaan di sosial media. Situasi seperti ini tak bisa kita biarkan terus menerus, mau jadi apa bangsa ini,” paparnya.

Baca Juga :  Beberkan UU Omnibus Law, Anggota DPR RI PDIP Sampai Blusukan ke Desa di Karanganyar. Klaim Omnibus Law Lahir Untuk Selamatkan Negara dari Kebangkrutan

Aksi budaya ini juga didukung masyarakat dari berbagai lintas agama, lintas organisasi keagamaan dan kepemudaan, dan organisasi lintas sosial kemasyarakatan.

“Sebagai bentuk harapan warga kepada pemimpinnya agar mengayomi segenap rakyat Bumi Intanpari tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antar golongan. Juga  mengajak masyarakat agar tetap bersatu dan tak tercerai berai karena perbedaan,” jelasnya.

Acara yang berakhir menjelang tengah  tengah malam ini ditutup dengan ‘sebara jadah sewu’ kepada seluruh masyarakat yang hadir.  Jadah Sewu sendiri merupakan bahasa cinta, bahasa ajakan tetap merekat, serta bahasa kesungguhan.

Baca Juga :  Awas, Muncul Klaster Keluarga dan Perkantoran di Karanganyar. Jadi Paling Ganas dan Penyumbang Kasus Covid-19 Terbanyak Hingga Menempati Posisi 11 di Jawa Tengah

“Selain merekatkan, jadah itu juga berarti sungguh-sungguh (bahasa Arab; Jadda) dalam melayani rakyat,” jelasnya.

Uniknya pembuatan jadah ini prosesnya menggunakan air yang berasal dari tujuh sumber air. Diantaranya air Zam-Zam, air sumber Pringgondani dan Sendang Drajad Lereng Lawu, Sumur Songo peninggalan PB IX, sumur Pesanggrahan Langenharjo, Umbul Pengging. Wardoyo