JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Heboh Pernikahan dengan Mahar Rumah, Uang Panaik Rp 130 Juta, Emas 1 Kg, dan Seekor Kuda di Sulawesi Selatan Mendadak Viral

Beri Mahar Rp 130 Juta, Emas 1 Kg, Rumah dan Seekor Kuda, Pengantin di Sulawesi Selatan ini Viral instagram Makasar info via tribunmandao.com
Beri Mahar Rp 130 Juta, Emas 1 Kg, Rumah dan Seekor Kuda, Pengantin di Sulawesi Selatan ini Viral instagram Makasar info via tribunmandao.com

JOGLOSEMARNEWS – Sebuah pernikahan di Sulawesi Selatan mendadak viral karena maharnya bisa dibilang fantastis.

Mahar Pernikahan Muhammad Ikbal dan Firda Fitria yang digelar di Balang Pasui, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Rabu (19/12/2018) berupa sebuah rumah, uang panaik sebesar Rp 130 juta, emas 1 kilogram, beras 1 ton, dan kuda.

Ayah Fitria, Haji Saparuddin membenarkan kabar yang beredar di media sosial.

Menurutnya, uang tersebut digunakan untuk tabungan masa depan.

“Jadi uang panaik ini kita gunakan sebagai tabungan Fitria dan Ikbal, bukan untuk foya-foya dalam resepsi pernikahan,” kata Saparuddin kepada Tribun Manado.

Ia juga menambahkan, pihak keluarga Ikbal tidak merasa keberatan dengan mahar yang diajukan.

Uang Panaik

Uang panaik jadi salah satu tradisi saat akan melangsungkan pernikahan.

Namun, uang panaik juga kerap menjadi hal yang ditakutkan oleh mempelai pria.

Pasalnya, uang panaik biasanya ditentukan oleh status sosial seorang wanita yang akan dilamar.

Misalnya, kelas wanita yang lulusan SMA, sarjana, telah bekerja, pegawai negeri sipil (PNS), dokter, hingga gadis telah berhaji memiliki mahar yang berbeda.

Salah seorang warga di Kabupaten Takalar, Taugi mengaku menikahkan anak laki-lakinya dengan gadis lulusan SMA dengan uang panaik Rp 100 juta, satu set perhiasan emas, 10 karung beras dan dua ekor kerbau.

“Memang tradisi di sini, malu kita juga kalau tidak menikahkan anak gara-gara uang panaik. Ya, diusahakan saja dipenuhi, tapi ada ji negosiasi sampai sesuai kemampuan.”

“Soalnya, itu anak bungsuku, Ansar sudah lama pacaran sama itu gadis. Itu uang panaik berbeda dengan pesta pengantin laki-laki. Jadi kira-kira habis Rp 200 juta lebih,” katanya.

Berbeda dengan yang dialami Ciwa.

Cintanya kandas karena uang panaik. Keluarganya tidak sanggup memenuhi permintaan uang panaik Rp 100 juta, sehingga batal menikah dengan kekasihnya, Mifta.

Baca Juga :  Jika Pilkada Ditunda Karena Pandemi, Mahfud MD: Pemerintahan Tak Akan Jalan

“Keluargaku tidak sanggup penuhi permintaan uang panaik keluarga kekasihku.”

“Karena keluargaku juga habis nikahkan kakak laki-lakiku yang uang panaiknya Rp 150 juta.”

“Saya disuruh menunggu sambil dikumpulkan uang, tapi eh Mifta sudah dilamar dan dinikahkan dengan laki-laki pilihan orangtuanya.”

“Ya, terpaksa pasrah, bukan jodohku lagi,” katanya.

Sementara itu, budayawan asal Sulsel, Prof Dr Nurhayati Rahman menggap bahwa uang panaikyang nilainya besar merupakan ujian bagi seorang laki-laki.

Pihak keluarga wanita ingin melihat keseriusan laki-laki melamar pujaan hatinya.

“Di situlah nilai luhurnya uang panaik, dilihat dari keseriusan seorang laki-laki mencari uang. Jangan hanya menikah saja, tapi dia tidak mau bekerja keras.”

“Jadi ada nilai positif dan negatif yang bisa diambil dari hal ini,” katanya.

Nurhayati mengungkapkan, besaran uang panaik di zaman sekarang ditentukan status seorang wanita.

Jadi jika status sosialnya seorang wanita bagus, maka uang panaiknya tentu bagus pula hingga miliaran rupiah.

“Jadi orang tua biasanya memasang nilai uang panaik, karena untuk melihat masa depan anaknya. Jadi beda-beda itu besarannya, disesuikan dengan statusnya wanita lulusan apa, kerjaannya apa, apakah dia PNS atau dokter. Tambah mahal lagi, kalau itu si wanita sudah naik haji dan mempunyai rumah serta harta.”

“Jadi pemikirannya itu orangtua, enak saja ini laki-laki menikah tidak ada apa-apanya langsung saja dapat pendamping hidup lengkap masa depan, rumah dan segalanya. Itu yang biasa menjadi patokan. Jadi tentu mahal dong panaiknya kalau wanita yang dilamar itu sudah sukses dari segi ekonominya,” terangnya.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Beri Mahar Rp 130 Juta, Emas 1 Kg, Rumah dan Seekor Kuda, Pengantin di Sulawesi Selatan ini Viral, http://surabaya.tribunnews.com/2018/12/22/beri-mahar-rp-130-juta-emas-1-kg-rumah-dan-seekor-kuda-pengantin-di-sulawesi-selatan-ini-viral?page=all.
Penulis: Arum Puspita
Editor: Musahadah

Unggahanya

TRIBUNJABAR.ID, SOLO – Pria bernama Rahman Wijaya Setiawan (34), warga Kabupaten Karanganyar yang sehari-hari menjual mobil mendadak viral karena unggahannya di Facebook yang menawarkan helikoper bekas seharga Rp 25 miliar.

Baca Juga :  Sabtu, DKI Jakarta Tambah 1.440 Orang Positif Covid-19

Sejak diunggah di grup media sosial (medsos) Facebook pada Rabu (19/12/2018) lalu, banyak netizen yang mempertanyakannya, karena unggahannya di luar kebiasaan pada umumnya.

Namun warga Kelurahan Tegalarum itu, secara rinci menyertakan gambar dan harga Rp 25 miliar, interior helikopter, jenis PK-JTT S/N 53455 CAE-847495 dan mesin Engine RR Roll Royce, tahun pembuatan 2000 hingga lokasi jika ada yang mau melihat barang tersebut.

“Calon buyer bisa melihat barang di Dermaga Utara Petikemas Tanjung Perak Jakarta,” kata Rahman kepada TribunSolo.com, Kamis (20/12/2018).

Rahman membenarkan, apa yang dijualnya adalah benar, karena memang selama ini melakukan jual beli barang bersama rekannya.

“Saya sama Pak Ratno sama-sama jual beli mobil selama ini, ” tuturnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, tidak tidak menyadari jika postingannya membuat viral, sehingga banyak yang bertanya apakah hal tersebut benar atau tidak.

Apalagi banyak di antaranya yang sudah menawar, seperti ada pesan masuk menawar dengan harga Rp 20 miliar.

“Namanya saja mencoba, kan kalau laku Alhamdulillah,” aku dia.

Dia menambahkan, selama ini menekuni jual beli mobil bekas di Solo Raya sejak lima tahun lalu.

“Paling mahal saya pernah menjualkan Rp 350 juta jenis mobil Fortuner, lha ini Rp 25 miliar untuk helikoper,” kelekarnya.

Sementara rekannya, Ratno Agustio Hoetomo (46) warga Kabupaten Sukoharjo itu membenarkan, jika apa yang ditawarkan Rahman benar.

“Saya dari saudara di Jakarta, jadi helikopter itu milik pengusaha, saya ikut menjualkan,” aku dia kepada TribunSolo.com.

Menurut dia, dengan postingan di medsos atau forum jual beli itu, ada yang tertarik.

www.tribunnews.com