JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Terkait Isi Buku  “Resimen Pelopor, Pasukan Elit yang Terlupakan” Penulis Meminta Maaf

Anton Agus Setyawan. Istimewa
Anton Agus Setyawan. Istimewa

SOLO– Penulis buku “Resimen Pelopor, Pasukan Elit yang Terlupakan”, Anton Agus Setyawan meminta maaf kepada publik atas kesalahan yang tertuang dalam buku yang ditulisnya. Buku pertama yang ditulisnya bersana Andi Muh Darlis edisi tahun 2011 tersebut nyatanya menimbulkan polemik.

Polemik yang timbul yaitu terkait isi buku tentang serbuan dan pendudukan dari pasukan elit Korps Brimob tersebut ke markas Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang berada di Cijantung tahun 1968.

“Buku seri pertama kami terbitkan tahun 2011, tetapi hasil revisi telah kami terbitkan tahun 2013 atau dua tahun setelah seri pertama itu beredar. Namun baru-baru ini, terjadi polemik terkait isi buku yang berada pada bab 9 halaman 191-193 yang menyebutkan bahwa Resimen Pelopor pernah menyerbu dan menduduki markas RPKAD yang berada di Cijantung,” urainya, Rabu (26/13/2018).

Baca Juga :  Meroket Lagi, Positif Covid-19 di Solo Bertambah 12 Orang, Total 576 Kasus

Menurut Anton, keterangan tersebut terdapat pada bab 9 halaman 191-193 yang menyebutkan bahwa Remimen Pelopor pernah menyerbu dan menduduki markas RPKAD didapat dari penuturan sejumlah saksi sejarah maupun anggota dari Resimen Pelopor yang tersisa. Namun, saat dilakukan penelusuran secara tertulis dan bukti-bukti sejarah sama sekali tidak ditemukan.

Selain itu, keterangan tersebut telah dijadikan kutipan sejumlah media terkemuka terkait bentrokan antara Resimen Pelopor dengan RPKAD yang merupakan cikal bakal dari Pasukan Elit TNI-AD Kopassus. Maka dari itu, sebagai sebuah tanggung jawab dari penulis pihaknya perlu melakukan klarifikasi dengan melakukan penerbitan buku seri ‘revisi’ yang telah diterbitkan oleh penerbit yang sama yakni dari Matapadi Presindo.

Baca Juga :  Merasa Mendapat Perlakuan Tidak Menyenangkan, Belasan Wartawan Rame-rame Walkout dari Area Konferensi Pers Keraton Surakarta

“Ini murni kesalahan saya. Seharusnya, untuk sebuah fakta sejarah tidak hanya didasarkan dari pengakuan para saksi semata. Melainkan juga bukti outentik seperti data tulisan, surat perintah dan lain sebagainya,” imbuh Anton.

Dengan kesalahan yang terjadi itu, Anton meminta maaf kepada seluruh pihak. Untuk menebus kesalahannya, pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk menggunakan buku Resimen Pelopor edisi revisi tahun 2013 yang telah dicetak sebanyak 2500 eksemplar.

“Yang menjadi pembeda antara terbitan 2011 dan terbitan revisi tahun 2013 terletak pada bab 9 halaman 191-193 yang menyebutkan bahwa Resimen Pelopor pernah menyerbu dan menduduki markas RPKAD. Di revisi tahun 2013, telah saya hilangkan karena lemahnya bukti outentik bagi sebuah buku yang diterbitkan untuk masyarakat luas,” tukasnya. Triawati PP