JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Hasil Survei Indikator: Pemilih PPP dan Hanura Terbelah ke Kubu Sebelah

pilpres
Ilustrasi

JAKARTA – Lembaga survei Indikator Politik merilis hasil sigi teranyar terkait pemilih pasangan capres-cawapres berdasarkan partai politik pilihannya dalam Pilpres 2019.

Peneliti Indikator, Rizka Halida mengatakan ada split-ticket voting atau dukungan pemilih yang tak sejalan dengan partai pilihannya dalam pilpres 2019.

Hal itu, kata dia, terlihat dari setidaknya 8 dari 9 basis pemilih partai koalisi Jokowi yang terbelah ke Prabowo.

Menurut catatan Indikator, partai pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin dengan pemilih terpecah paling banyak berada di Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Hanura. Survei Indikator merekam sebanyak 53,7 persen pemilih PPP mendukung Jokowi dan 43,2 persen ke arah Prabowo.

Sedangkan untuk Partai Hanura, sebanyak 59,1 persen pemilihnya mendukung Jokowi-Ma’ruf dan 39,6 persen lainnya memilih Prabowo – Sandiaga.

“Basis PPP dan Hanura memang paling banyak terbelah kepada oposisi,” ujar Rizka.

Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani mengakui bahwa masih banyak split voters atau pemilih partai yang terpecah mendukung calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto. Menurut dia hal seperti itu biasa terjadi, seperti halnya pada 2014, ketika partai berlambang ka’bah itu mengusung Prabowo – Hatta.

Baca Juga :  Sri Mulyani: Pembiayaan Utang Melonjak, APBN Kita Berat

“Pada saat itu, menurut survei, pemilih PPP juga terbelah,” ujar Arsul di Jakarta Kamis (24/1/2019). Pendukung Prabowo-Hatta 57 persen dan Jokowi-JK 31 persen.

Arsul mengatakan perkembangan politik yang membuat PPP masuk ke pemerintahan, membuat terjadi peningkatan pemilih kepada Jokowi. “Pada Mukernas 2017, kami menjajaki tingkat dukungan kepada Pak Jokowi sudah 40-an persen.” Sebaliknya, tingkat dukungan kepada kubu Prabowo – Sandiaga berada di bawah 45 persen. “Split voters di internal PPP itu memang harus diakui masih ada,” ujar dia.

Jika mengacu kepada sejumlah hasil survei, ujar dia, tingkat split voters di PPP semakin turun. “Kalau dikatakan masih tinggi, wajar saja terutama untuk PPP dan Golkar.” Lantaran ada perubahan dari semula mendukung Prabowo, lalu beralih kepada Jokowi.

Ia yakin di sisa waktu kampanye Pilpres angkat itu akan terus mengecil. “Target kami sekitar 80 persen,” ujar Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi – Ma’ruf ini.

Baca Juga :  Status Positif Covid-19 pada Paslon Peserta Pilkada Serentak 2020 Bakal Pengaruhi Nomor Urut, Bisa Dapat Nomor Urut Sisa atau Terakhir

Lembaga survei Indikator Politik merilis hasil sigi teranyar soal pemilih pasangan capres-cawapres berdasarkan partai politik pilihannya dalam pilpres 2019. Peneliti Indikator, Rizka Halida mengatakan ada split-ticket voting atau dukungan pemilih yang tak sejalan dengan partai pilihannya dalam pilpres 2019. Hal itu, kata dia, terlihat dari setidaknya 8 dari 9 basis pemilih partai koalisi Jokowi yang terbelah ke Prabowo.

Indikator mencatat, partai pendukung Jokowi – Ma’ruf Amin dengan pemilih terpecah paling banyak berada di Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Hanura. Survei Indikator merekam sebanyak 53,7 persen pemilih PPP mendukung Jokowi dan 43,2 persen ke arah Prabowo.

 Adapun, untuk Partai Hanura, sebanyak 59,1 persen pemilihnya mendukung Jokowi – Ma’ruf dan 39,6 persen lainnya memilih Prabowo – Sandiaga.

“Basis PPP dan Hanura memang paling banyak terbelah kepada oposisi,” ujar Rizka.

www.tempo.co