JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Mahasiswa UGM Ciptakan Becak Listrik, Jonan Minta Diproduksi Massal

ilustrasi/tempo.co

JAKARTA –  Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan berharap becak listrik yang diciptakan oleh mahasiswa dan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) dapat diproduksi secara massal.

Pasalnya, pemanfaatan teknologi kendaraan listrik, diharapkan juga dapat diaplikasikan pada kendaraan konvensional yang telah ada, termasuk becak.

Jonan mengatakan, kendaraan listrik akan mengurangi polusi dan tentunya lebih ramah lingkungan.

“Yang penting juga itu adalah yang mengoperasikan becaknya. Zaman segini masa’ masih ada yang ngayuh becak, itu tidak manusiawi,” kata Jonan melalui keterangan resmi Sabtu (19/1/2019).

Pembuatan becak listrik kerja sama Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan PLN itu diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut dan diproduksi lebih banyak. Dari sisi ekonomi, becak listrik juga dapat menjadi menjadi daya tarik pariwisata.

Baca Juga :  Usulan Penundaan Pilkada 2020 Menguat, Mahfud MD: Presiden Sudah Dengar Semua Masukan

“Saya menganjurkan setelah pembuatan becak listrik dilanjutkan dengan bekerjasama dengan industri kita supaya bisa diproduksi lebih banyak lagi. Saya yakin bapak Gubernur DIY atau Bapak-Bapak Gubenur yang lain itu akan membuat regulasi supaya becak listrik ini berjalan, karena bisa dimanfaatkan untuk pariwisata dan tidak akan menghapus lapangan kerja yang telah ada. Jadi becak listrik ini selain lebih manusia dan juga soal lingkungan,” kata Jonan.

Baca Juga :  Dulu Bersaing di Pilkada DKI Jakarta, Kini Sandiaga Uno dan Djarot Saiful Hidayat Gabung Tim Sukses Menantu Jokowi di Pilkada Kota Medan

Jonan juga mengungkapkan bahwa perkembangan terbaru regulasi terkait kendaraan listrik yang saat ini masuk pada tahap finalisasi.

“Update terakhir terkait penyusunan peraturan kendaraan listrik, sebentar lagi akan difinalkan dengan adanya insentif kalau kita membangun industri mobil listrik di Indonesia, dengan harapan bahwa harga mobil listriknya akan bisa terjangaku atau paling tidak bisa bersaing dengan kendaraan konvensional. Selain itu juga mengatur insentif industri, bea masuk, pajak-pajak juga mengatur mengenai kapasitasnya berapa dan targetnya apa dan sebagainya,” ungkap Jonan.

www.tempo.co