JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Pengacara Iwan Adranacus : Tuntutan Belum Mencerminkan Rasa Keadilan

Iwan Andranacus dituntut 5 tahun penjara oleh JPU. Triawati
Iwan Andranacus dituntut 5 tahun penjara oleh JPU. Triawati

SOLO- Sidang lanjutan kasus Mercy maut akan dilanjutkan Kamis (10/1/2019) pagi ini, di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta. Sidang lanjutan kali ini mengagendakan pembelaan dari pihak terdakwa Iwan Adranacus (40) yang didakwa melakukan pembunuhan pada korban Eko Prasetio (28).

Kuasa Hukum Iwan Adranacus, Joko Haryadi menanggapi tuntutan lima tahun penjara yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang Selasa (8/1/2019) lalu. Joko menilai bahwa tuntutan tetsebut belum mencerminkan rasa keadilan karena JPU mendasarkan saksi yang tidak dihadirkan di sidang sebagai dasar pengajuan tuntutan.

“JPU menggunakan kesaksian tiga rekan Pak Iwan yang tidak dihadirkan dalam sidang. Tentu itu tidak adil. Seharusnya yang menjadi dasar pengajuan tuntutan adalah fakta-fakta yang dihadirkan dalam sidang, ” ujarnya, Kamis (10.1/2019).

Terkait hal itu, Joko berencana akan mengajukan pembelaan pada sidang kali ini. “Kami menghormati tuntutan yang telah dibacakan oleh JPU. Tapi perlu kami sampaikan kembali,  selama proses persidangan, fakta-fakta persidangan justru meyakinkan kepada kami bahwa peristiwa ini murni kecelakaan biasa dan tidak ada niatan pak Iwan untuk mencelakai Alm Eko. Pak Iwan sangat menyesali terjadinya musibah ini, karena keluarganya juga ikut menjadi korban dan menanggung akibatnya. Beliau juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga alm Eko dan juga orangtuanya. Dan seperti teman-teman media ketahui, Keluarga dan orangtua Alm Eko pun telah memberikan maaf dengan tulus dan telah iklhas atas terjadinya musibah ini,” urainya, Kamis (10/1/2019) pagi.

Baca Juga :  Koleksi Ratusan Keris, Mantan Ketua Umum PSSI Sekaligus Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti Mendapat Gelar Pangeran Hardonagoro dari Keraton Solo

Selain itu, lanjut Joko, dalam proses persidangan Iwan juga telah menyampaikan tanggungjawabnya, terutama terhadap kelangsungan hidup dan masa depan keluarga alm Eko. Keluarga Alm Eko yaitu Ibu Lia telah menerima uang duka dan santunan untuk membesarkan putranya, membiayai pendidikan, kesehatan dan melanjutkan hidup lebih baik. Keluarga Alm pak Eko, baik Istri maupun orangtuanya juga telah menandatangani kesepakatan damai dan tidak akan menuntut pak Iwan atas musibah ini. Baik pak Iwan dan keluarga Alm, sesungguhnya sudah selesai, sudah damai.

Baca Juga :  Sumbang 10 Kasus, Klaster Perkantoran di Kecamatan Jebres Tambah Daftar Panjang Kasus Covid-19 di Solo, Kini Total 628 Orang

“Selama proses persidangan saksi-saksi juga telah secara gamblang menjelaskan rangkaian peristiwa ini dengan baik. Saksi Ahli Prof. Eddy Hiariej, guru besar hukum pidana UGM dalam keterangannya juga menyampaikan, bahwa perkembangan hukum modern saat ini telah beralih dari yang bersifat retributif menuju restoratif. Yakni proses penyelesaian hukum pidana yang menekankan kepada ganti rugi. Semakin besar ganti rugi yang berhasil dikenakan, maka tuntutannya semakin sedikit. Begitu pun sebaliknya. Seharusnya ganti rugi yang telah diberikan kepada korban tindak pidana dapat menjadi pertimbangan hakim untuk meringankan putusan,” tukasnya. Triawati PP