loading...
Loading...
Korupsi
Ilustrasi

JAKARTA – Sejauh ini Indonesia masih berkubang dalam lumpur korupsi. Sementara kondisi korupsi di tanah air masih memprihatinkan.

“Ibaratnya kondisi korupsi di Indonesia ini masuk stadium 3,” ujar Staf Ahli Indonesian Corruption Watch (ICW), Emerson Yuntho di Jakarta, Sabtu (2/2/2019).

Terlepas dari predikat Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia yang meningkat di tahun 2018, namun menurut Emerson, kondisi koruoai masih tetap memprihatinkan.

“Indeks persepsi korupsi kita paling enggak 10 sampai 15 tahun tidak terlalu menggembirakan, jadi ini sebenarnya masuk kategori stadium 3, bukan stadium 4,” katanya.

Emerson mengatakan butuh cara luar biasa untuk menangani korupsi di Indonesia. Butuh dukungan semua pihak untuk memperbaiki kondisi itu, baik dari pemerintah, legislatif maupun swasta.

Baca Juga :  Layanan Garuda Dijamin Tak Terganggu Pasca Pencopotan 4 Direktur Garuda

“Untuk menjadikan negara ini keluar dari zona merah negara paling korup,” katanya.

Sebelumnya, Manager Riset Transparency International Indonesia Wawan Sujatmiko mengatakan skor IPK Indonesia naik satu poin.

“Skor IPK Indonesia tahun 2018 adalah 38, setelah 2016, 2017 skor IPK 37,” kata Wawan Suyatmiko dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/1/2019).

Naik turunnya skor IPK ditentukan berdasarkan sembilan indikator penilaian, yaitu World Economic Forum, International Country Risk Guide, Global Insight Country Risks Ratings, IMD World Competitiveness Yearbook, Bertelsmann Foundation Transform Index, Economist Intelligence UnitCountry Ratings, PERC Asia Risk Guide,Varieties of Democracy Project dan World Justice Project.

Baca Juga :  Reuni 212 Diawali dengan Salat Tahajud Berjamaah di Monas

Emerson menuturkan untuk meningkatkan IPK Indonesia tak hanya bisa mengandalkan Komisi Pemberantasan Korupsi. Pemerintah, kata dia, juga harus ambil bagian dengan membuat regulasi antikorupsi. “Kalau hanya mengandalkan KPK enggak akan selesai,” katanya. #tempo.co

Loading...