loading...
Loading...

CILACAP, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kalah menang dalam Pilkades di Desa Bajing Kulon, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap ini tak bakal banyak berpengaruh. Pasalnya, Pilkades ini mempertemukan dua orang calon yang merupakan pasangan suami isteri.

Karena itu, Rabu (20/2/2019) kemarin, yang terlihat malah lebih mirip pelaminan layaknya dalam sebuah pesta pernikahan. Hari itu memang sebanyak 177 desa di Kabupaten Cilacap melaksanakan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak.

Tak terkecuali di Desa Bajing Kulon, Kecamatan Kroya, yang dengan uniknya kedua calon kades bak pengantin baru yang sedang disandingkan di atas pelaminan.

Hal tersebut terjadi karena sang petahana Saryono mendaftarkan diri sebagai kepala desa sendiri tanpa ada lawan. Sehingga dirinya menggandeng istrinya sendiri Sudini untuk menjadi lawan. Tak disangka, ternyata hal itu justru mendapatkan perlakuan unik dari panitia pilkades setempat untuk membuat panggung calon kades seolah seperti pelaminan.

Baca Juga :  Ari Askhara Dikenal Bergaya Hidup Mewah. Selalu Tidur di Hotel, Dengan Siapa?

“Ini biar agar ada nuansa lain dan meriah, yang penting tidak menyalahi aturan yang ada,” kata Ketua Panitia Pilkades Bajing Kulon, Mujiman Soma.

Semua tahapan juga dilakukan sesuai dengan aturan dari kedua belah pihak calon kepala desa meskipun mereka pasangan suami istri. Antusias masyarakat juga dinilai cukup baik dalam menggunakan hak suaranya.

Dari total 5.440 orang daftar pemilih tetap (DPT) ada sebanyak 3.253 atau 58 persen yang datang ke TPS untuk memberikan suaranya. Hasil pemilihan Kepala Desa Bajing Kulon Saryono memperoleh 2.769 suara dan sang istri Sudini memperoleh 444 suara, sedangkan suara tidak sah sebanyak 40. Dengan begitu sang petahana berhak melanjutkan  kepemimpinannya.

Baca Juga :  Bus Rombongan Guru TK Tulungagung Alami Kecelakaan, Terperosok ke Kali Judel Blitar, 5 orang Tewas

Sementara di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kroya, para panitia pemilihan kepala desa kompak mengenakan pakaian adat yakni dengan beskap, jarit, dan blangkon. Tak terkecuali para pemilih yang menyalurkan hak suaranya, sebagian besar menggunakan ikat kepala atau blangkon.

www.teras.id/KRJogja

Loading...