JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Viral Video Siswa SMK di Yogyakarta Lawan Guru di Dalam Kelas, Dewan Pendidikan DIY Nilai Tindakan Siswa Agak Berlebihan

Viral video seorang siswa yang mendorong gurunya saat di kelas, OS siswa kelas X SMKN 3 Yogyakarta yang ada di dalam video tersebut meminta maaf atas tindakan yang telah ia lakukan kepada gurunya, Sujiyanto (55) pada Kamis (21/2/2019). Tribun Jogja/Noristera Pawestri
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Viral video seorang siswa yang mendorong gurunya saat di kelas, OS siswa kelas X SMKN 3 Yogyakarta yang ada di dalam video tersebut meminta maaf atas tindakan yang telah ia lakukan kepada gurunya, Sujiyanto (55) pada Kamis (21/2/2019). Tribun Jogja/Noristera Pawestri

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Video seorang siswa mendorong gurunya di SMKN 3 Yogyakarta yang viral di Media Sosial mendapat tanggapan dari Dewan Pendidikan DIY.

Wakil Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof Buchory menilai tindakan yang dilakukan oleh siswa kepada gurunya yang terjadi di SMKN 3 Yogyakarta agak berlebihan.

Dia menuturkann jika guru merupakan orangtua pertama saat anak di sekolah, dimana guru ini juga tidak akan mengambil hak muridnya.

“Saya kira juga tindakan siswa berlebihan, artinya guru itu tidak akan mengambil untuk dimiliki, mestinya guru itu mengambil agar anak tidak membuka hp selama ujian. Siswa mengambil tas guru itu juga tidak benar, apalagi ada laptopnya dan sebagainya, itu tidak benar,” terangnya, Kamis (21/2/2019).

Baca Juga :  UPNVY Perkuat Promosi Digital Batik Tulis Giriloyo di Masa Pandemi Covid-19

Dia menerangkan jika sepantasnya ketika murid tersebut melakukan kesalahan karena tidak menaati tata tertib yang diterapkan, harusnya dia menyadari kesalahannya.

“Semestinya anak kalau diambil hpnya dia menyadari kalau dirinya salah, tidak boleh buka hp kok saya buka. Seharusnya ditunggu saja sampai pelajaran selesai baru diminta. Sikap anak lebay, tidak benar. Bagaimanapun guru adalah orangtua pertama di sekolah, tidak mungkin guru akan melakukan hal yang merugikan anak, mengambil hak anak, jelas tidak mungkin,” ungkapnya.

Dia menjelaskan ketika murid masih berani kepada gurunya di sekolah, berarti sekolah tersebut juga belum sukses mengajarkan pendidikan karakter kepada siswanya.

“Saya kira dulu ada pendidikan Budi pekerti, sekarang semestinya Kementerian sudah melaunching PPK Penguatan Pendidikan Karakter, disini karakter anak juga belum bagus. Sekolah juga belum sukses melakukan pendidikan karakter bagi peserta didik,” terangnya.

Baca Juga :  Perpanjangan Status Tanggap Darurat Covid-19, Sri Sultan Undang Semua Kepala Daerah

Baca: Polsek Jetis Akan Berikan Pembinaan Mental Kepada Siswa yang Dorong Gurunya

Buchory menjelaskan jika memang dalam mendidik anak diperlukan tiga unsur yang saling berkaitan, yakni orangtua, sekolah dan masyarakat.

Ketika salah satu dari ketiga hal tersebut tidak bisa melakukan, maka juga akan berimbas pada pembentukan karakter anak.

“Memang saya kira perlu kerjasama dengan semua pihak, artinya orangtua juga harus mengkondisikan anaknya. Artinya pendidikan itu bisa sukses kalau melibatkan orangtua, sekolah dan masyarakat. Tri Pusat Pendidikan masih relevan untuk saat ini, kadang orangtua mengabaikan dan sibuk bekerja sendiri,” ungkapnya.

www.tribunnews.com