loading...
Loading...
Terpidana Iwan Budi Pangarso saat ditangkap Polisi. Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Solo menjatuhi hukuman 2 tahun 6 bulan penjara kepada Iwan Budi Pangarso terkait kasus penggelapan dalam perjanjian kerjasama bisnis distribusi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa ini lebih rendah enam bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Solo selama tiga tahun.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan hukuman dua tahun enam bulan potong masa tahanan,” ujar Majelis Hakim, Abdul Rauf membacakan vonis hukuman.

Mendengar vonis tersebut, terdakwa yang saat itu duduk di kursi pesakitan menyatakan pikir-pikir.

Baca Juga :  45 Anggota DPRD Solo Resmi Dilantik, Teguh Prakosa dan Abdul Ghofar Ketua dan Wakil Ketua DPRD Solo sementara

“Menyatakan pikir-pikir,” kata terdakwa lemah.

Terpisah, JPU Kejari Kota Solo, Endang Sapto Pauli membenarkan vonis yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim dalam sidang yang diadakan pada Senin (15/4/2019) lalu.

“Iya, dari tiga tahun tuntutan kami. Majelis Hakim memvonis dua tahun enam bulan. Terdakwa pikir-pikir. Kami juga masih menunggu perkembangan,” kata Endang saat dikonfirmasi, Kamis (18/4/2019) siang.

Kasus ini bermula, dari hubungan antara korban atau pelapor dari PT SHA di Jalan Yosodipuro Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari, Solo terkait tunggakan pembayaran hingga mencapai Rp 1,1 miliar oleh terpidana Iwan Budi Pangarso.

Baca Juga :  Kasus Tabrak Lari di Fly Over Manahan, Kuasa Hukum Desak Polisi Naikkan ke Penyidikan

Antara Iwan dan korban pemilik dari PT SHA merupakan rekanan bisnis. PT SHA telah mengirimkan solar ke PT Semarang Multicons dan PT Bumi Panen Makmur dengan total 136.000 liter atau senilai Rp 1,1 miliar. Namun saat PT SHA hendak melakukan pencairan cek yang diberikan oleh tersangka, tidak dapat dilakukan.

Sehingga, pihak PT SHA melaporkan perbuatan Iwan kepada Polisi pada Bulan Desember 2018 lalu. Akhirnya, ditangkap dan dijerat dengan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan.

Sementara itu, dari kesaksian Iwan dirinya mengaku bahwa uang pembayaran saat ini ludes lantaran dirinya mencoba-coba bisnis yang lain.

Baca Juga :  Polisi Tolak Gugatan Pra Peradilan dalam Kasus Tabrak Lari

“Uangnya saya putar untuk bisnis. Tapi, saya malah rugi. Celakanya, itu uang untuk pembayaran solar non subsidi PT SHA,” kata Iwan saat bersaksi di hadapan Majelis Hakim.

Dalam kasus tersebut, juga dihadirkan sejumlah barang bukti. Diantaranya, tujuh lembar aplikasi transfer yang dikeluarkan dari Bank Jateng dengan rekening tujuan Bank Mandiri atas nama Noviandari Dwiana Putri termasuk 17 lembar invoice atau tanda pengiriman.

Terpidana Iwan Budi Pangarso saat ditangkap Polisi.

Iklan
Loading...