loading...
Loading...
Koordinator Pusat Layanan Autis Sragen, Indarwa saat merangkul Irfan, salah satu siswa autis yang puisinya membuat haru peserta talk show dan sosialisasi PLABK di Ruang Sukowati Sragen, Rabu (10/4/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Suasana acara Talk Show dan Sosialisasi PLABK dalam rangka Peringatan Hari Peduli Autis Sedunia di Sragen, Kamis (10/4/2019) mendadak berubah haru. Ratusan hadirin dari berbagai elemen dan orangtua siswa penderita autis yang hadir dalam acara bertema “Merangkul Anak Super Meraih Cita-Cita” pagi itu, langsung terdiam saat seorang bocah didaulat membacakan puisinya.

Berjalan dengan memegang penopang tubuh, bocah bertubuh mungil itu terlihat semangat menuju ke depan. Dengan suara nyaring, sang bocah bernama Irfan itu kemudian membacakan puisi tentang cita-citanya.

“Aku ingin jadi pilot. Jangan tertawakan aku. Kan boleh saya punya cita-cita jadi pilot”.

Untaian kalimat itu diucapkan bocah kelas V SD SLB Negeri Sragen itu dengan nada terbata-bata. Mendengar puisi itu, ratusan guru, orangtua dan elemen terkait pun terlihat terdiam haru.

Beberapa di antaranya bahkan tertangkap menitikkan air mata melihat semangat Irfan. Ya, meski terlahir dengan kondisi fisik yang tak sempurna akibat lumpuh layuh, Irfan yang divonis mengidap autis itu terlihat tak patah semangat.

Bahkan, Wakasek SLBN Sragen, Indarwa yang juga ketua panitia acara itu sampai tak mampu menyembunyikan keharuannya.

“Iya, siapa enggak trenyuh Mas. Bayangkan dia sangat semangat dan ingin mewujudkan cita-citanya meski dalam kondisi keterbatasan,” ujar Indarwa yang kemudian merangkul Irfan.

Baca Juga :  Sigab SOLOPEDULI Lakukan Assesmen Wilayah dan Korban Angin Kencang di SMKN 1 Miri Sragen

Indarwa yang juga Koordinator Pusat Layanan Autis (PLA) Sragen itu menguraikan talk show digelar untuk memeringati Hari Peduli Autis Sedunia. Ada sekitar 300an peserta yang diundang meliputi ketua penggerak PKK, penyelenggara sekolah berkebutuhan khusus, praktisi hingga orangtua siswa.

Menurutnya, acara itu digelar sebagai upaya untuk mengajak masyarakat dan orangtua anak berkebutuhan khusus (ABK) agar lebih peduli terhadap perkembangan dan pendidikan mereka.

Indarwa menyampaikan ABK maupun anak autis sebenarnya memiliki kelebihan dan potensi jika diasuh dan dididik sesuai kebutuhannya. Karenanya, orangtua harus mulai merubah mindset bahwa anak autis bukanlah aib akan tetapi mereka aset yang juga bisa berprestasi seperti anak normal pada umumnya.

“Jangan salah, anak-anak autis yang kami asuh sebagian punya prestasi dan bakat yang hebat. Ada yang bisa hafal kata2 lebih dari 20 menit. Ada juga anak autis yang punya kecerdasan istimewa biasanya IQ-nya di atas 110 malah di atas rata-rata normal. Mereka kadang bisa lebih dari yang normal asalkan perlakuan dan layanannya sesuai dengan kebutuhan anak,” terangnya.

Foto/Wardoyo

Dalam kesempatan itu, Indarwa menyebut masih ada sebagian orangtua yang malu, apriori sehingga mengurung anak mereka yang terdeteksi autis. Ia justru kasihan karena perlakuan itu justru akan mematikan potensi anak dan membuat anak makin kehilangan dunianya.

Baca Juga :  Sempat Diguncang Tragedi Aula Ambruk Lukai 23 Korban, Proses Belajar Mengajar di SMKN 1 Miri Sragen Kembali Normal 

“Makanya lewat kesempatan seperti ini, kami ingin membuka mata hati orangtua ABK dan anak autis, bahwa mereka pun bisa menjadi anak super dan meraih cita-cita tinggi asalkan mendapat pendidikan serta diasuh dengan tepat,” tukasnya.

Di Sragen sendiri, menurutnya Pemkab dan Pemprov sudah cukup responsif menyediakan sarana prasarana untuk pelayanan ABK dan anak autis.

“Makanya pesan kami, sarana prasarana itu harus dimanfaatkan. Harapan kami di Sragen, tidak ada satu pun anak usia sekolah yang tidak terlayani gara-gara memiliki hambatan tertentu. Entah itu hambatan emosional, inteleketual, tingkah laku termasuk difabel,” tukasnya.

Indarwa menambahkan sejauh ini ada tujuh sekolah yang melayani pendidikan anak autis maupun berkebutuhan khusus. Selain SLBN Sragen, ada 2 SLB di Gemolong, 1 di Gondang, 1 di Plupuh dan Masaran.

“Jumlah siswanya cukup banyak. Seperti di SLBN kami ada 400 siswa, di SLB swasta rata-rata 90 sampai 100 siswa. Yang belum disekolahkan juga kami rasa masih ada,” pungkasnya. Wardoyo

 

Loading...