loading...
pilpres
ilustrasi

JAKARTA, Joglosemarnews – Klaim kemenangan dalam pilpres 2019 dikhawatirkan bakal  menimbulkan konflik di masyarakat.

Karena itu, kedua capres diimbau untuk sama-sama menahan diri untuk tidak melakukan klaim-klaim kemenangan dalam bentuk apapun.

Demikian diungkapkan oleh  Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, saat menanggapi perkembangan aituasi terkini.

“Dapat dan telah menimbulkan euforia dari pendukung masing-masing. Hal mana potensial menimbulkan konflik,” ujarnya berdasarkan isi dari tausyiah kebangsaan yang dirilis MUI, Jumat  (19/4/2019).

Baca Juga :  Era New Normal, PBNU Keluarkan Protokol Ibadah di Masjid, Salah Satunya Wudhu di Rumah

Din juga menyeru kepada masyarakat agar sabar menunggu penetapan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait siapa yang menjadi presiden dan wakil presiden terpilih.

“Maka itu, meminta kepada semua pihak untuk tidak mengganggu proses konstitusional,” katanya.

Berdasarkan tausyiah kebangsaan yang berisi tujuh poin imbauan tersebut, MUI pun mengkritik tersiarnya hasil hitung cepat di sejumlah media massa. Ia menuding hitung cepat menjadi satu di antara pemicu beragam reaksi dari masyarakat.

Baca Juga :  Diprotes Komisi VIII DPR Soal Pembatalan Haji, Begini Reaksi Menag Fachrul Razi

“Islam mengajarkan agar berhati-hati. Jangan sampai informasi menimbulkan kemudaratan dan kemafsadatan. Quick count selama ini menimbulkan kemudaratan dan kemafsadatan,” katanya.

Kepada para penyelenggara Pemilu, MUI kembali mengingatkan agar berlaku adil dan terbuka. Integritas penyelenggara Pemilu disebutkan sangat menentukan kepercayaan masyarakat terhadap hasil Pemilu.

“Maka KPU, Bawaslu, DKPP dan pihak keamanan untuk berlaku profesional, objektif, transparan, dan imparsial non partisan,” ujar Din Syamsuddin.

www.tempo.co