loading...
Loading...

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Pemenang Pilpres 2019 diprediksi tak akan jauh-jauh amat dari hasil survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei selama ini.

Hal itu disampaikan oleh pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Adi Prayitno. Ia mengatakan, pasangan capres Jokowi-Ma’ruf Amin diprediksi unggul atas penantangnya Prabowo-Sandiaga Amin.

“Kalau melihat kecenderungan trend survei, tetap Jokowi yang unggul. Di (hasil) survei itu kan nyaris tidak ada pergerakan signifikan melampaui elektabilitas Jokowi, terutama survei-survei yang dikeluarkan oleh lembaga yang secara reguler melakukan survei. Bukan lembaga survei yang hanya muncul 5 tahun sekali,” kata Adi di Jakarta, Senin (15/4/2019).

Beberapa hari menjelang hari tenang Pemilu 2019, sejumlah lembaga survei merilis hasil jajak pendapat mereka.

Baca Juga :  Cari yang Panas di Kedinginan Dieng?. Berendam Yuk ke Kalianget !!

Charta Politika menempatkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf di angka 55,7 persen, sementara tingkat keterpilihan pasangan Prabowo-Sandiaga sebesar 38,8 persen.

Hasil survei teranyar Saiful Mujani Research Center (SMRC) yang dirilis pada Jumat (12/4/2019) lalu juga hampir senada. Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dengan 56,8 persen dan pesaingnya 37 persen.

Pasangan capres nomor 01 juga unggul berdasarkan survei Indo Barometer dengan 59,9 persen sedangkan pasangan nomor urut 02 sebesar 40,1 persen.

Lembaga Survei Median juga menggulkan petahana meski selisihnya tipis. Jokowi-Ma’ruf 47,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 39,5 persen.

Menurut Adi, jika melihat tren survei kecendrungannya Jokowi unggul di Pilpres nanti.

Baca Juga :  Ganjar Pranowo: Desa Siluman Kasus Lama, Panggil Bupati Selesai

“Unggulnya bisa dua digit atau satu digit. Kalau toh didiskon jadi satu digit, Jokowi kan tetap unggul. Itu artinya selama kampanye, debat kandidat, itu memang tidak terlampau mengubah peta politik,” kata Adi.

Kalaupun ada tren kenaikan elektabilitas Prabowo-Sandi, kata dia, itu berasal dari swing voter sebab basis pemilih Jokowi juga trennya naik. Ini juga bisa diterjemahkan bahwa swing voter mengalami penurunan hingga terkikis menjadi 7 persen.

“Artinya tidak ada migrasi pemilih dari 01 ke 02. Kecenderungannya hanya saling memperebutkan swing voter itu. Jokowi tidak memiliki tren turun, prabowo juga demikian. Artinya strong voter kedunya tidak ada yang pindah,” ujarnya.

Baca Juga :  Sempat Menuai Kontroversi, Jaksa Agung Janji Tak Akan Berpolitik

Merujuk data itu, Adi berpendapat, hasil Pilpres 17 mendatang tidak akan jauh berbeda dari kebanyakan hasil survey. Kalaupun ada menurut dia kecendrungan berubah tidak akan terlalu banyak dengan margin eror tak sampai 10-15 persen.

“Kalau tak ada tsunami, kiamat, atau tidak ada badai besar, kecenderungan berubahnya kecil. Kalaupun ada itu karena pengaruh agama atau identitas, tapi tidak akan terlampau signifikan. Kalau masih normal-normal seperti saat ini, hasil-hasil survei itu realable. Kalau kalau tidak 100 persen ya masih dalam batas margin error,” tutupnya.

www.teras.id/KRJogja

Loading...