loading...
Loading...

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Kondisi BUMN Indonesia disebut oleh Capres Prabowo sedang goyah. Padahal BUMN merupakan benteng terakhir perekonomian nasional.

Hal itu dikatakan oleh Prabowo dalam debat Capres terakhir, Sabtu (13/4/2019). Apakah klaim Prabowo tersebut berdasar fakta, ini buktinya.

Menurut data Kementerian BUMN per 31 Desember 2018, total aset perseroan pelat merah telah menembus angka Rp 8.092 triliun atau naik Rp 882 triliun dari 2017 senilai Rp 7.210 triliun.

Baca Juga :  Hendarsam: Saksi BPN Prabowo di Sidang MK Belum Memuaskan

Adapun dari sisi total pendapatan yang dikantongi,  selama tahun 2018 tercatat mencapai Rp 2.339 triliun. Realisasi itu naik 10,45 persen dari Rp 2.027 triliun pada tahun sebelumnya.

Pendapatan yang dikantongi oleh BUMN terus mengalami pertumbuhan dari periode 2015—2018. Jumlah yang dikantongi tiap periode yakni Rp 1.699 triliun pada 2015, Rp 1.710 triliun pada 2016, Rp 2.027 triliun pada 2017, dan Rp 2.339 triliun pada 2018.

Baca Juga :  Dinilai Bohong, Yusril Buka Kemungkinan Seret Saksi Kubu Prabowo ke Ranah Pidana

Ihwal total laba BUMN, tercatat tumbuh 1,07 persen menjadi Rp 188 triliun dari Rp186 triliun pada 2017. Dalam empat tahun terakhir, laba perseroan pelat merah tercatat terus mengalami kenaikan selama rentang 2015-2018.

Dari data yang dihimpun, pencapaian tumbuh dari Rp 150 triliun pada 2015, Rp 176 triliun pada 2016, Rp 186 triliun pada 2017, dan Rp 188 triliun pada 2018.

Baca Juga :  Pemberi Perintah Bakar Mobil Brimob Masih Diburu Polisi

Belanja modal yang digelontorkan oleh BUMN tahun lalu naik signifikan 54,60 persen dari Rp 315 triliun pada 2017 menjadi Rp 487 triliun.

Alokasi terbesar dana itu mengalir ke proyek-proyek infrastruktur. Kontribusi BUMN terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) juga naik dari Rp 354 triliun pada 2017 menjadi Rp 422 triliun pada 2018.

www.tempo.co

Iklan
Loading...