loading...
Loading...
Direktur IKP Kemenkominfo, Wiryanta saat memberikan sambutan di acara sosialisasi perilaku hidup sehat dalam upaya pencegahan stunting di Alun-alun Slawi, Kabupaten Tegal, tadi malam. Foto/Wardoyo

TEGAL, JOGLOSEMARNEWS.COM- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengajak masyarakat untuk mulai meningkatkan pola hidup bersih dan sehat. Sebab hanya dengan pola hidup bersih diyakini akan bisa menurunkan angka kasus gagal tumbuh atau stunting pada anak yang saat ini mencapai 30 persen di Indonesia.

Hal itu terungkap saat digelar sosialisasi perilaku hidup sehat dalam rangka penurunan prevalensi stunting di Alun-alun Slawi, Kabupaten Tegal, Jumat (19/4/2019) malam.

Sosialisasi digelar dengan pertunjukan rakyat wayang kulit yang menghadirkan dalang Ki Warseno Slenk dan Ki Amar Pradopo.

Tak kurang dari 500 warga memadati acara wayangan yang dihadiri langsung oleh Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta tersebut. Sejumlah pejabat Pemkab setempat dan dinas terkait turut hadir.

Baca Juga :  Viral Foto Toko Tak Menjual Apa-apa di Kaliangkrik Magelang, Ternyata Misinya si Pembuat Ingin Bertemu Sule

Dalam paparannya, Wiryanta mengungkapkan sosialisasi soal stunting digencarkan karena berdasarkan data Kementerian Kesehatan, saat ini 30,8 persen atau sekitar 3 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting.

“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi anak terlalu pendek untuk usianya. Kondisi kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia 2 tahun,” paparnya kepada wartawan.

Wiryanta menjelaskan kasus stunting tak bisa dipandang sebelah mata. Faktor utama penyebab terjadinya stunting bukanlah faktor keturunan seperti yang selama ini menjadi paradigma di masyarakat.

Akan tetapi kendala lingkungan jauh lebih berperan dalam terjadinya stunting.

Baca Juga :  Awas, Desa Yang Tak Anggarkan Pencegahan Stunting, Pencairan ADD Bakal Ditahan! 

“Stunting tak hanya merugikan pertumbuhan fisik dan kognitif, tapi juga kesehatan anak di masa mendatang. Dampak lanjutan dari stunting atau yang dikenal dengan fenomena Baker berefek pada kesehatan dan produktivitas anak, tingkat kecerdasan yang menurun, menyebabkan rendahnya produktivitas anak ketika dewasa. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh kurang dan tidak menghindarkan dirinya dari garis kemiskinan,” terangnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan penanganan stunting tidak hanya dari sisi kecukupan gizi. Namun juga perlu dibudayakan hidup sehat dengan melakukan langkah kecil.

Misalnya melalui perubahan pola hidup dan pola makan ke arah yang lebih sehat, sehingga kekurangan gizi kronis dapat diatasi.

“Untuk mengatasi permasalah kurang gizi kronis tersebut tidak bisa hanya mengandalkan  peran sektor kesehatan saja,” terangnya.

Baca Juga :  Rekrutmen CPNS Kabupaten Semarang 2019, Ada 10 Formasi Penyandang Disabilitas dan Lulusan Cumlaude. Berikut Penjelasannya! 

Kementerian atau Lembaga Pemerintah melalui paraMenteri, Gubernur serta Kepala Daerah, dunia usaha, tokoh agama, akademisi, dan

masyarakat, diharapkan dapat memberikan dukungan, komitmen dan peran-sertanya dalam bergotong royong meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang.

Sementara, penggunaan media wayang kulit sengaja dipilih karena memiliki sifat menghibur dan dapat menyampaikan pesan dalam suasana santai dan menyenangkan, sehingga lebih menarik perhatian masyarakat.

“Selain itu pagelaran pertunra juga dimaksudkan sebagai upaya untuk melestarikan kesenian tradisional. Kekuatan media tradisional sebagai media penyebaran informasi terletak pada unsur cerita dan dialog yang pesannya disampaikan secara luwes dan fleksibel sesuai dengan budaya lokal masyarakat,” tandas Wiryanta. Wardoyo

Loading...