JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Gelar Wayang Kulit di Banjarsari Solo, Kementerian Kominfo Ajak Masyarakat dan Pemerintah Daerah Bersinergi Tekan Kasus Stunting 

Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta saat memberi sambutan dalam acara sosialisasi percepatan penurunan kasus stunting lewat pagelaran wayang kulit di Lapangan Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo, Sabtu (25/5/2019) malam. Foto/Wardoyo
loading...
Loading...
Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta saat memberi sambutan dalam acara sosialisasi percepatan penurunan kasus stunting lewat pagelaran wayang kulit di Lapangan Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo, Sabtu (25/5/2019) malam. Foto/Wardoyo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika ( Kemenkominfo) RI kembali mengajak pemerintah dan masyarakat, bersama-sama meningkatkan pola hidup sehat dan pemenuhan gizi untuk mencegah stunting.

Hal itu terungkap dalam roadshow sosialisasi program percepatan penurunan stunting yang digelar melalui pertunjukkan seni tradisional wayang kulit di Lapangan Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo Sabtu (25/5/2019) malam.

Pentas sosialisasi melalui pagelaran wayang kulit itu menghadirkan dalang Ki Warseno Slenk dan Ki Amar Pradopo dengan lakor Bathara Kala Sirna.

Dalam sambutannya, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kemenkominfo, Wiryanta mengingatkan kembali semangat persatuan dan gotong royong pasca hajatan pesta demokrasi 17 April lalu.

Menurutnya bangsa ini akan berdiri kokoh sepanjang masa jika semua elemen tidak lelah untuk bersatu padu dan bergotong royong.

Wiryanta kemudian menyampaikan bahwa tahun 2030 ada bonus demografi di Indonesia dan salah satu persoalan yang harus ditekan adalah kasus stunting atau kekurangan gizi pada anak. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, saat ini 30,8 persen atau sekitar 3 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting.

Baca Juga :  Paguyuban Warga Solo ini Keberatan dengan Pencalonan Gibran, Apa Sebab?

“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi anak terlalu pendek untuk usianya. Kondisi

kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia 2 tahun,” paparnya.

Wiryanta menjelaskan penanganan stunting tidak hanya dari sisi kecukupan gizi. Namun juga perlu dibudayakan hidup sehat dengan melakukan langkah kecil.

Misalnya melalui perubahan pola hidup dan pola makan ke arah yang lebih sehat, sehingga kekurangan gizi kronis dapat diatasi.

“Untuk mengatasi permasalah kurang gizi kronis tersebut tidak bisa hanya mengandalkan  peran sektor kesehatan saja,” terangnya.

Sekda Solo, Ahyani yang hadir mewakili Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo dalam sambutannya mengapresiasi sosialisasi lewat pertunjukan wayang kulit itu. Ia menyampaikan Pemkot Solo mendukung penuh program pemerintah untuk pemenuhan gizi pada anak usia dini guna mencegah stunting.

Baca Juga :  Ginda Kembalikan Formulir Pendaftaran Bakal Calon Wakil Walikota Awal Pekan Ini

“Pemenuhan gizi sebagai tonggak masa depan anak-anak. Asupan gizi yang kurang, akan akibatkan anak sulit meraih cita-cita. Karenanya perlu pendekatan komprehensif mulai dari pemberdayaan ekonomi hingga pendekatan pola hidup sehat,” tandasnya.

Acara wayang kulit sosialisasi percepatan stunting malam itu dihadiri pejabat Pemkot Solo, Muspika, tokoh masyarakat dan ratusan warga. Wardoyo

 

Loading...