JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kepala DPUPR Sragen Digugat Praperadilan. Dinilai Rugikan Rekanan Hingga Rp 5 Miliar 

Pimpinan CV Bima Agung (kanan) bersama kuasa hukumnya usai mendaftarkan gugatan praperadilan di PN Sragen, Selasa (27/5/2019). Foto/Wardoyo
Pimpinan PT Bima Agung (kanan) bersama kuasa hukumnya usai mendaftarkan gugatan praperadilan di PN Sragen, Selasa (27/5/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPU PR) Sragen, Marija digugat peradilan atas kekurangan pembayaran proyek Jembatan Barong di Kemukus Sumberlawang tahun 2016 senilai Rp 2,4 miliar.

Gugatan diajukan oleh rekanan PT Bima Agung selaku penyedia jasa proyek tersebut, Budi Setyawan Lespenda. Gugatan diajukan ke Pengadilan Negeri (PN) Sragen, Selasa (27/5/2019).

Gugatan praperadilan itu dilakukan Budi dengan menggandeng kuasa hukum, Yoyok Sismoyo.

“Hari ini kami mendaftarkan secara resmi mengajukan gugatan praperadilan terhadap Kepala DPU PR Sragen yang kebetulan dijabat Pak Marija. Intinya ini gugatan wanprestasi atas proyek Jembatan Barong tahap 2 yang sudah selesai dan diresmikan, tapi sampai sekarang kekurangan Rp 2,4 miliar belum dibayarkan,” papar Yoyok didampingi Budi, seusai mendaftarkan gugatan di PN Sragen siang tadi.

Baca Juga :  Istri Sandiaga Beli Batik Sutra Brotoseno Rp 15 Juta, Nyonya Erick Thohir Langsung Borong 20 Potong

Yoyok menguraikan gugatan praperadilan itu yang kedua dilakukan. Sebelumnya gugatan pernah diajukan bulan Februari 2018 dan ditolak.

Kali ini, pihaknya kembali melakukan upaya hukum dengan menggugat Kepala DPUPR selaku tergugat agar segera membayarkan kekurangan Rp 2,4 miliar itu kepada rekanan PT Bima Agung selaku pemohon gugatan.

Ia mengatakan dasar gugatan itu adalah bahwa proyek Jembatan Barong itu faktanya sudah selesai dan sudah diresmikan oleh bupati pada 23 Mei 2018 silam.

Baca Juga :  Duet Begal Mbolo dan Gomplo Berkomplot Curi Kabel Sibel di 50 TKP Sragen Sekitarnya. Modalnya Pakai GPS

Menurutnya, peresmian itu merupakan bukti pengakuan dari Pemkab bahwa pekerjaan sudah selesai, diakui dan diterima.

“Mungkin nggak kalau pekerjaan tidak diterima kemudian diresmikan? Maka dari itu karena sudah diresmikan, tolong lah kekurangan Rp 2,4 miliar itu sudah sewajarnya dibayarkan. Kami ini rakyat, perusahaan juga butuh makan, banyak karyawan juga. Lha kalau nggak dibayar, bagaimana nasib mereka,” urai Yoyok.

Lebih lanjut ia menguraikan proyek Jembatan Barong itu dibangun dengan dana Rp 14,680 miliar. Proyek itu memang sempat terlambat karena elevasi WKO meningkat dan crane beberapa kali tenggelam.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com