loading...
Loading...
JOGLOSEMARNEWS.COM

SOLO,  JOGLOSEMARNEWS.COM – Dalam rangka upgrading volunteer Solo Mengajar angkatan 17,  digelar acara nonton bareng dan diskusi film pendidikan bertema Seventeenfest (Festival Volunteer 17 SM ) Sabtu  (4/5/2019) malam.

Puluhan volunteer Solo Mengajar dari berbagai angkatan memadati rumah yang dulu sempat menjadi kantor Solo Mengajar, yakni di  Jalan Nangka Raya No. 1A Kerten.

Untuk upgrading semangat dan menggali inspirasi para relawan, mereka menonton film berjudul  Jembatan Pensil.

Dalam nobar dan diskusi ini dihadirkan narasumber di antaranya Ketua Dewan Penasehat Gentur Yoga Jati, Ketua GP Ansor Jawa Tengah Gus Sholah dan volunteer yang membuka tempat pembelajaran pertama yaitu Helmi.

Acara tersebut berlangsung terasa hidup dan dinamis dalam  panduan  Didik Kartika selaku Direktur Solo Mengajar.

Baca Juga :  Anlene Ajak Masyarakat Solo Hidup Sehat dan Bergerak Aktif melalui "Ayo Indonesia Bergerak"

Adapun susunan acara dalam kegiatan ini adalah, sambutan dari  Direktur Solo Mengajar Didik Kartika, nonton bareng dan dilanjutkan dengan diskusi tentang film yang diputar.

Salah satu volunteer Solo Mengajar angkatan 12, Mahendra Ma’ruf menuturkan,  film Jembatan Pensil ini sangat bagus dan begitu menginspirasi.

Terutama tokoh utama bernama Ondeng. Dia adalah  seorang siswa SD yang berkebutuhan khusus. Namun dengan segala keterbatasannya tersebut, dia  tulus membantu, dan menjadi inspirasi  bagi teman- temannya dan orang-orang di sekelilingnya.

“Ondeng anak yang polos, tulus dan penuh cinta dia begitu tulus untuk membantu teman- temannya saat berangkat sekolah melewati jembatan yang rapuh.  Dia seorang anak yang berpikiran sederhana.  Dia hanya berpikir bagaimana teman-temannya dapat bersekolah tanpa takut melewati jembatan yang sudah rapuh itu,” ujarnya.

Baca Juga :  UNS Kini Punya Taman Literasi, yang Bosan Membaca Buku di Perpustakaan Bisa Beralih di Sini

Sementara itu Mahe menambahkan, pola pikir sederhana yang begitu tulus dan penuh cinta itu lah yang seharusnya ďimiliki bersama oleh para volunteer Solo Mengajar.

“Bagaimana anak-anak dapat  menikmati pertemanan yang sederhana, menciptakan sesuatu dan membantu seseorang yang membutuhkan. Terdengar begitu sederhana namun itu lah yang begitu berarti,”  ujarnya. A. Setiawan

Loading...