loading...
Waluyo (53), peternak di Dusun Gadungan, Desa Pasuruhan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (25/6/2019). Tribunjogja/istimewa

JOGLOSEMARNEWS.COM – Akibat anjloknya harga ayam broiler, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Jateng mengaku mengalami kerugian Rp 1 trilun sepanjang enam bulan terakhir.

Ketua Pinsar Indonesia Jateng, Pardjuni mennyatakan, selama enam bulan terakhir yakni Desember 2018-Juni 2019 harga ayam di tingkat peternak sangat jauh dari harga pokok produksi (HPP).

Peternak hanya menikmati harga dikisaran Rp 8.000-Rp 9.000 dari HPP yang berada di angka Rp 18-Rp 19.000.

“Kalau saya hitung dari Jateng saja ya, Jateng-DIY hampir sama lah, per ekor sampai dengan 30 Juni itu Rp 4.000-Rp 4.200. Kalau saya selama enam bulan ini pelihara 100 ribu ekor, berarti saya hilang 2,4 miliar minimal,” ujarnya, Jumat (5/7/2019) malam.

Baca Juga :  Diguyur Hujan Deras, 2 Titik Purbalingga Digoncang Longsor. Sejumlah Jalur Tertutup, 3 Rumah Terancam

Pardjuni menguraikan, secara total peternak di Jateng mengalami kerugian dengan simulasi 40 juta ekor ayam dikalikan dengan kurun waktu harga selama enam bulan terakhir kemudian dikali kembali dengan kisaran harga di angka Rp4.000.

“Totalnya hampir Rp 1 triliun,” jelas dia.

Pardjuni enggan berspekulasi lebih jauh tentang dugaan kartel.

Ia mengatakan fenomena tersebut memang karena berlebihnya penawaran dari peternak.

Sementara, gudang peternak yang minim semakin mempersulit keadaan karena tidak memungkinkan menahan banyaknya pasokan.

Baca Juga :  Nekat Bergerombol Saat Corona Mewabah, Puluhan Pemuda dan Warga di Grobogan Kocar-Kacir Kepergok Razia Social Distancing Polisi

“Dari data pun sudah kelihatan. Kenapa kita sampaikan data dari Desember tahun lalu sampai Juni, karena kita merasakan benar-benar, kita minta dipangkas tapi tidak, efeknya ya sangat ekstrim seperti kemarin,” ucapnya.

www.tribunnews.com