loading...
Loading...
Puluhan warga Desa Dawung, Sambirejo menggelar aksi penolakan dan pengadangan terhadap operasi listrik oleh PLN, Senin (15/7/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM– Puluhan warga Desa Dawung, Kecamatan Sambirejo melakukan aksi penolakan dan mengadang kegiatan operasi listrik ilegal yang dilakukan oleh petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN), Selasa (15/7/2019) siang.

Mereka mengadang dan melawan kegiatan operasi listrik lantaran dinilai sangat membebani dan meresahkan warga.

Aksi warga dilakukan dengan berkumpul di balai desa. Mereka kemudian melontarkan pernyataan sikap menolak operasi listrik PLN karena dampaknya mengakibatkan penjatuhan denda cukup besar hingga belasan jutaan rupiah bagi warga yang dianggap salah.

Menurut warga, operasi listrik itu sudah berjalan selama sepekan terakhir. Senin (15/7/2019) tadi beredar kabar akan digelar operasi listrik untuk kali kedua di wilayah itu.

Baca Juga :  9 Bulan Aparat Tak Gajian, Keuangan Desa Tak Bisa Dicairkan. Tokoh dan Perdes Desa Doyong Sragen Geruduk Kecamatan 

Salah satu tokoh masyarakat, Sugino, mengatakan warga keberatan adanya operasi listrik sepihak yang dilakukan PLN. Pasalnya selain tanpa sosialisasi aturan, operasi itu juga membebani denda cukup besar terhadap warga yang dianggap melakukan pelanggaran maupun penyalahgunaan listrik.

“Mestinya kan diberitahu dulu. Lha ini tiba-tiba kabel langsung diputus, meteran listrik dicabut. Warga juga dikenai denda sangat besar,” paparnya.

Ia juga meminta kepada PLN agar meteran yang dicabut maupun kabel yang diputus dipasang kembali. Jika nekat melakukan operasi dan tak memasang kembali meteran yang dicabut, maka warga akan terus melawan dan melakukan aksi lebih besar.

Baca Juga :  Proyek Jalan Grompol-Jambangan Bikin Sengsara, Warga Sragen dan Karanganyar Demo Pelaksana. Hujan Debu Dinilai Matikan Usaha dan Picu Penyakit 

Senada, warga Dawung Cetokan RT 21, Supangat mengecam operasi listrik yang kesekian kalinya di Desa Dawung. Selain mendadak, petugas yang melakukan operasi juga tidak mengenakan tanda pengenal dan atribut resmi PLN.

“Apa kami dianggap maling, tahu-tahu digropyok begitu saja. Kalo dendanya di bawah lima ratus ribu mungkin warga masih terima. Tetapi ini dendanya sampai Rp 1,6 juta. Siapa yang nggak kesal,” terangnya.

Ia menjelaskan di Dukuh Dawung Cetok sejauh ini sudah ada 12 rumah tangga yang listriknya diputus. Belum dukuh lain seperti Nangsri maupun kampung lainnya.

Denda yang dikenakan dinilai tak masuk akal. Seperti dengan pemasangan listri 450 watt dikenai denda Rp 1,6 juta. Untuk pemasangan 900 watt Rp 7,7 juta, 1300 watt 14,4 juta.

Baca Juga :  Gara-gara Obat Nyamuk, Rumah Nenek di Sidoharjo Sragen Ludes Terbakar. Pemilik Rumah Terpaksa Mengungsi 

“Kalo ada sosialisasi masyarakat tahu kesalahan mereka dimana, dan kalau rusak yang diganti apa jelas. Bukan malah warga dianggap maling, tahu-tahu diputus dan diminta bayar denda,” ucap Supangat.

Menanggapi keresahan dan penolakan warga, pimpinan operasi PLN Parji mengatakan untuk sementara operasi tidak jadi dilakukan. Pihaknya akan lapor pimpinan terlebih dahulu dan akan sosialisasi terlebih dahulu sebelum operasi.

“Kami akan lapor pimpinan dulu. Nanti juga akan kita sosialisasikan dulu sebelum operasi,” katanya. Wardoyo

 

Iklan
Loading...