JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kabar Dari Mekah: 67 % Jemaah Kloter 8 Sragen Masuk Risiko Tinggi, Dr Lis Harus Rajin Imbau Jaga Kesehatan! 

Dr Lis saat melakukan pemeriksaan jemaah haji asal Sragen. Foto/Istimewa
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Dr Lis saat melakukan pemeriksaan jemaah haji asal Sragen. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Banyaknya jemaah haji asal Kloter Sragen yang berusia lanjut dan masuk kategori risiko tinggi (Risti) menjadi tantangan tersendiri bagi para tenaga medis yang mendampingi para jemaah. Para tenaga medis dituntut banyak memberikan imbauan agar para jemaah risti bisa menjaga kesehatan.

Seperti apa yang dilakukan dr Lis, TKHI asal Sragen yang mendampingi jemaah Kloter 8 SOC. Seperti dikisahkan Johan Wahyudi, jemaah haji asal Kalijambe yang tergabung dalam kloter 8 yang menggambarkan aktivitas dari Mekah.

“Mbah, jaga kesehatan. Ibadah wajib haji masih lama. Jangan terlalu diforsir. Nanti badan bisa drop saat puncak haji tiba” terang dr. Lis, begitu ia dipanggil, kepada jamaah risiko tinggi (risti) yang baru saja divisitasi.

Ya, dokter di RSUD Gemolong Sragen ini harus pandai-pandai merayu jamaah agar kesehatan tubuhnya dijaga.

Hal ini disebabkan oleh masih lamanya waktu puncak haji, tetapi banyak jamaah risti nekad bepergian, seperti sholat ke Masjidil Haram, ziarah atau piknik, dan belanja.

Baca Juga :  Diisolasi 22 Hari, Kuli Panggul Positif Covid-19 Berusia 59 Tahun Asal Tanon Sragen Kembali Berhasil Sembuh. Tinggal 9 Pasien Positif Yang Masih Dirawat, Satu Meninggal Dunia
Dr Lis. Foto/Istimewa

Pembawaannya yang kalem dan keibuan sangat disukai oleh para jemaah. Maka, tak heran, alumnus Fakultas Kedokteran UNS Solo 1996 ini kerap ditunjuk sebagai Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).

Tercatat, ibu tiga anak ini sudah tiga kali ditunjuk, yakni tahun 2013, 2016, dan 2019. Lalu, apa istimewanya musim haji tahun ini?

“Yang jelas akomodasi sudah sangat memadai. Hampir semua kebutuhan jamaah dipenuhi pemerintah. Jadi, jamaah bisa fokus ke ibadah tanpa perlu direpotkan oleh kesibukan lain, seperti memasak, jalan kaki, dan keterbatasan tenaga medis. Banyaknya tenaga medis sangat membantu jamaah yang perlu penanganan,” tambah ibu tiga anak yang tinggal di Gemolong ini.

Lalu mengapa para jamaah haji suka memaksakan diri meskipun berbahaya?

Dokter PNS sejak 2007 ini menjelaskan, lamanya waktu menunggu keberangkatan menjadi penyebab tingginya semangat beribadah para jamaah. Sayangnya, mereka mengabaikan kesehatan.

Baca Juga :  Kabar Duka Sragen, Satu Warga Sambirejo Meninggal dengan Status PDP Corona. Jadi Korban Meninggal ke-24, Sempat Dirawat di RSUD Sragen

“Jamaah haji kloter saya ini ada 67% yang risti, yakni jamaah yang usianya lebih dari 60 tahun dengan atau tanpa penyakit dan usia kurang dari 60 tahun dengan penyakit. Ini jelas sangat berbahaya. Terlebih, itu hanya ibadah sunah. Wajib hajinya kan 8, 9, dan 10 Dzulhijah” jelas perempuan kelahiran 25 September 1969 di Sragen.

Untuk mengantisipasi kondisi itu, tak henti-hentinya beliau dan tim kesehatan haji mengadakan penyuluhan.

Semua jamaah dihimbau agar selalu mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Selain itu, semua jamaah juga diminta untuk sering minum air meskipun tidak haus. Langkah terakhir saat ada hambatan penyuluhan adalah mendatangi jamaah dari pintu ke pintu.

“Sudah tugas saya. Saya senang sekali karena akhir-akhir ini hape jarang berbunyi. Tidak seperti dahulu yang hampir 24 jam naik turun lift demi melayani jamaah” pungkasnya menutup obrolan. (*)