loading...
Loading...
Dr Lis saat melakukan pemeriksaan jemaah haji asal Sragen. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Banyaknya jemaah haji asal Kloter Sragen yang berusia lanjut dan masuk kategori risiko tinggi (Risti) menjadi tantangan tersendiri bagi para tenaga medis yang mendampingi para jemaah. Para tenaga medis dituntut banyak memberikan imbauan agar para jemaah risti bisa menjaga kesehatan.

Seperti apa yang dilakukan dr Lis, TKHI asal Sragen yang mendampingi jemaah Kloter 8 SOC. Seperti dikisahkan Johan Wahyudi, jemaah haji asal Kalijambe yang tergabung dalam kloter 8 yang menggambarkan aktivitas dari Mekah.

“Mbah, jaga kesehatan. Ibadah wajib haji masih lama. Jangan terlalu diforsir. Nanti badan bisa drop saat puncak haji tiba” terang dr. Lis, begitu ia dipanggil, kepada jamaah risiko tinggi (risti) yang baru saja divisitasi.

Ya, dokter di RSUD Gemolong Sragen ini harus pandai-pandai merayu jamaah agar kesehatan tubuhnya dijaga.

Hal ini disebabkan oleh masih lamanya waktu puncak haji, tetapi banyak jamaah risti nekad bepergian, seperti sholat ke Masjidil Haram, ziarah atau piknik, dan belanja.

Dr Lis. Foto/Istimewa

Pembawaannya yang kalem dan keibuan sangat disukai oleh para jemaah. Maka, tak heran, alumnus Fakultas Kedokteran UNS Solo 1996 ini kerap ditunjuk sebagai Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).

Baca Juga :  Hari Anti Korupsi, Formas Ungkap Masih Banyak Indikasi Korupsi di Sragen. Desak Penegak Hukum Berani Tajam ke Atas, Minta Koruptor Dihukum Mati!  

Tercatat, ibu tiga anak ini sudah tiga kali ditunjuk, yakni tahun 2013, 2016, dan 2019. Lalu, apa istimewanya musim haji tahun ini?

“Yang jelas akomodasi sudah sangat memadai. Hampir semua kebutuhan jamaah dipenuhi pemerintah. Jadi, jamaah bisa fokus ke ibadah tanpa perlu direpotkan oleh kesibukan lain, seperti memasak, jalan kaki, dan keterbatasan tenaga medis. Banyaknya tenaga medis sangat membantu jamaah yang perlu penanganan,” tambah ibu tiga anak yang tinggal di Gemolong ini.

Lalu mengapa para jamaah haji suka memaksakan diri meskipun berbahaya?

Dokter PNS sejak 2007 ini menjelaskan, lamanya waktu menunggu keberangkatan menjadi penyebab tingginya semangat beribadah para jamaah. Sayangnya, mereka mengabaikan kesehatan.

“Jamaah haji kloter saya ini ada 67% yang risti, yakni jamaah yang usianya lebih dari 60 tahun dengan atau tanpa penyakit dan usia kurang dari 60 tahun dengan penyakit. Ini jelas sangat berbahaya. Terlebih, itu hanya ibadah sunah. Wajib hajinya kan 8, 9, dan 10 Dzulhijah” jelas perempuan kelahiran 25 September 1969 di Sragen.

Baca Juga :  Innalillahi, Tambang Galian C di Gunung Tugel Gesi Sragen Mendadak Ambrol. Satu Warga Ditemukan Tewas Tertimbun

Untuk mengantisipasi kondisi itu, tak henti-hentinya beliau dan tim kesehatan haji mengadakan penyuluhan.

Semua jamaah dihimbau agar selalu mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Selain itu, semua jamaah juga diminta untuk sering minum air meskipun tidak haus. Langkah terakhir saat ada hambatan penyuluhan adalah mendatangi jamaah dari pintu ke pintu.

“Sudah tugas saya. Saya senang sekali karena akhir-akhir ini hape jarang berbunyi. Tidak seperti dahulu yang hampir 24 jam naik turun lift demi melayani jamaah” pungkasnya menutup obrolan. (*)

 

Loading...