loading...
Loading...
Ilustrasi harimau, pexels

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM– Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) kehilangan salah satu satwa yang dilindunginya, macan tutul. Seekor induk macan tutul diketahui mati Kamis (25/7/2019) lalu. Terkait hal itu, pihak TSTJ memberikan perlakuan sesuai prosedur terhadap kematian induk macan tutul tersebut.

Direktur Utama TSTJ, Bimo Wahyu Widodo mengungkapkan, setiap kelahiran dan kematian satwa dilindungi selalu dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Surakarta.

“Ada berita acara kematian, otopsi, sample organ yang dilabkan untuk mengetahui penyebabnya. Kemudian akan diawetkan jika layak untuk diawetkan,” urainya, Senin (5/8/2019).

Terkait kematian satwa macan tutul, sempat menimbulkan kontra dari beberapa pihak yang mempertanyakan hal itu dan disesalkan karena tidak dilepasliarkan.

Baca Juga :  Nama Anak Diplesetin Jadi Produk Es Teh,  "Jan Es Teh" Gibran : Bagus, Kreatif!

“Soal melepasliatkan memang bukan wewenang kami. Ada prosedur yang berjenjang yang harus dilewati. Kami sebagai lembaga konservasi pasti ada lahir dan mati, kita harus bijaksana menyikapinya. Yang jelas dalam prosedur perawatan satwa kita juga sudah memilikinya. Seperti buaya muara yang ditangkap sekarang masih hidup, jadi fokusnya bukan masalah lepas liar dan lainnya,” papar Bimo.

Bimo menekankan bahwa TSTJ lebih konsentrasi pada mengelola titipan negara sebaik dan semampu mungkin.

“Jadi harus proposional dalam menghadapai kematian dan kelahiran satwa. Kemudian tentang hasil otopsi dari kematian satwa macan tutul masih menunggu dari Balai Besad Veteriner Wates, paling lama satu bulan keluar hasilnya,” tandasnya. Triawati PP

Loading...