JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Jokowi: Insiden Listrik Bisa Rusak Reputasi PLN

Tempo.co
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

861019 720
Tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  –
Insiden matinya aliran listrik di Pulau Jawa menjadi perhatian bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia mengatakan, peristiwa itu bisa merusak reputasi PLN.

Presiden mempertanyakan PLN yang tidak bekerja dengan cepat mengatasi persoalan tersebut.

“Kita tahu ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN tapi juga banyak hal di luar PLN, terutama konsumen dirugikan. Layanan transportasi umum juga berbahaya sekali. MRT misalnya,” kata Jokowi saat melakukan kunjungan ke Kantor Pusat PLN, Jakarta Selatan, Senin ( 5/8/2019).

Jokowi mempertanyakan backup plan perusahaan setrum negara itu yang tidak berjalan baik saat terjadi pemadaman listrik pada Minggu kemarin.

Baca Juga :  Bantuan Subsidi Upah untuk Guru dan Dosen Non-PNS: Ini Cara Cek Penerima dan Pencairan Bantuan Rp1,8 Juta

“Dengan manajemen besar tentu saja ada contengency plan, backup plan. Pertanyaan saya, kenapa itu tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik?” kata Jokowi.

Jokowi meminta Pelaksana tugas Direktur Utama PT PLN Sripeni Inten Cahyani untuk menjelaskan secara singkat peristiwa pemadaman tersebut.

Pasalnya, kata Jokowi, pemadaman panjang juga pernah terjadi pada 2002 untuk kawasan Jawa dan Bali. Semestinya, kata Jokowi, peristiwa pada 2002 itu dijadikan pelajaran agar tidak terulang di kemudian hari.

Baca Juga :  Gubernur Anies Akui Kepatuhan 3M di Jakarta Menurun

Sripeni menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa pemadaman pada Ahad kemarin. Ia kemudian menjelaskan kepada Jokowi penyebab pemadaman berawal dari gangguan beberapa kali pada Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran-Pemalang.

Hal ini mengakibatkan transfer energi dari timur ke barat mengalami kegagalan dan diikuti trip seluruh pembangkit di sisi tengah dan barat Jawa.

“Upaya PLN memaksimalkan bagaimana perbaikan atau proses transfer dari timur ke barat berjalan. Kemudian kami mohon maaf prosesnya lambat, itu kami akui,” kata Sripeni.

www.tempo.co